Page 305 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 305

Toponim Kota Yogyakarta   287











                  Kampung Prawirataman. Petinggi istana memberi bendera geniraga sebagai identitas
                  pasukan. Bendera ini berbentuk 4 persegi panjang warna dasar hitam. Di sisi tengah
                  ada gambar lingkaran berwarna merah. Busana yang dikenakan barisan pajurit ini, yaitu
                  topi centhungan (seperti cabai) pendek berwarna hitam, baju sikepan (baju menakup
                  berkancing) kelir hitam, baju rangkepan (baju dalam) warna putih, celana selutut kelir
                  merah putih. Kakinya dibungkus sepatu lars hitam. diberikan pusaka tombak dengan
                  ujungnya berjumlah  tiga bernama  Kanjeng Kyai  Trisula. Bersenjatakan  senapan,
                  tombak, keris, serta pedang. Instrumen tetapnya genderang, seruling, dan terompet
                  dengan lagu iringan Balang dan Vanderburg.


                  Pustaka  Almanak (1938) menginformasikan bahwa Kangjêng Radèn  Tumênggung
                  Jayawinata diminta oleh kerajaan untuk mengisi jabatan wêdana prajurit prawiratama.
                  Dirinya  dibantu Radèn  Panji  Brôngtaprawira  yang  bertugas  sebagai lurah  parentah
                  prawiratama. Mereka tentunya tinggal di Kampung Prawirataman.

                  Sumintarsih dan  Ambar  Andrianto (2014) menguraikan, Kampung  Prawirataman
                  selanjutnya  menjadi  tempat bermukim  trah  keturunan  prajurit Prawiratama. Di
                  tempat tersebut kemudian terdapat trah-trah keturunan prajurit Prawiratama, yang
                  namanya menggunakan Prawira. Beberapa nama keluarga Trah yang cukup dikenal
                  menggunakan nama Prawira adalah Werdayaprawira, Suraprawira, Mangunprawira,
                  Mertaprawira, Pideksaprawira, Gandaprawira. Trah ini terkenal dan dikenal dengan
                  baik oleh sebagian besar warga Prawirataman, karena mereka ini di samping menjadi
                  panutan, keturunan abdi dalem, juga pengusaha batik cap yang telah memberikan label
                  Prawirataman sebagai kampung batik.


                  Pada masa perjuangan melawan Belanda tahun 1948 di Kampung Prawirataman banyak
                  warga yang ikut berjuang melawan Belanda dengan membentuk laskar yang dikenal
                  bernama  “Hantu Maut”. Satu diantara  keturunan Prawiratama menjadi penggerak
                  pasukan Hantu Maut yang bernama Tulus Mulyahartono yang juga pernah menjabat
                  sebagai Ketua Rukun Kampung (RK) Prawirataman yang pertama. Di depan rumah
                  Tulus terdapat monumen pasukan Hantu Maut. Selanjutnya dari trah Prawirataman ini
                  banyak yang terlibat aktif dalam kepengurusan Kampung Prawirataman.

                  Sekitar tahun 1960-1970–an batik Prawirataman berkembang dan terkenal, sehingga
                  Prawirataman mendapat sebutan Kampung batik.  Trah-trah Prawira itulah yang
                  dikenal sebagai juragan-juragan batik. Warga sekitar banyak yang bekerja sebagai buruh
   300   301   302   303   304   305   306   307   308   309   310