Page 396 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 396

378         Toponim Kota Yogyakarta












                             padhusunan (pepunden yang dikeramatkan oleh masyarakat desa). Keterangan lengkap
                             perihal umbul yang berhubungan dengan pepunden tersurat pada pustaka Primbon Jawa
                             Pawukon garapan Tanaya (1972). Dikatakan, umbul atau sumber ini berkaitan dengan
                             ritual upacara yang memasukkan  aspek kedewaan, mengobati sakit, penghidupan
                             manusia, dan bisa menjadi tanda atau perlambang suatu peristiwa yang terjadi.
                             Sementara itu, lema “arja” menurut buku Têmbung Kawi Mawi Têgêsipun garapan Wintêr
                             (1928) artinya prayogi, rahajêng, pantês, wêwulang, bêning, mulya, raras, dan bagus. Dari
                             penjelasan makna atas dua istilah itu, dapat dimengerti umbulharja adalah tuk atau
                             sumber yang mengalirkan air bening dan dipercaya oleh warga membawa manfaat bagi
                             kehidupan manusia sehingga keberadaannya pun dikeramatkan.

                             Banyak daerah  di Jawa  tempo dulu dijumpai  umbulharja. Sebagaimana  dikabarkan
                             dalam Serat Centhini periode permulaan abad XIX berikut ini: Satêngahe pangayuban/
                             ana umbul langkung wêning/ ngantya biru sinatmata/ sang dyah atatanya ririh/ kakang iki
                             ing ngêndi/ balumbang banyune biru/ mêtu saka ing ngandhap/ sapa kakang kang ngangsoni/
                             iba kèhe balanjane tukang toya. Terjemahan bebasnya: Disela-sela pandangan yang masih
                             redup, ada sumber air yang begitu bening sampai berwarna biru bercahaya terlihat oleh
                             mata. Sang putri bertanya pelan kepada lelaki di sampingnya, bahwa ini daerah mana,
                             kolam airnya biru yang keluar dari bawah. Siapa yang mengeluarkan (mencari) air di
                             sini, sangat banyaklah imbalan para tukang air.


                             Demikian  pula  keyakinan  penduduk setempat bahwa  dulu segenap warga  terkesan
                             dengan keberadaan umbul di daerah ini, sehingga dipakai untuk nama wilayahnya. Atas
                             keberadaan umbul yang arjo atau bening itu, tentu disyukuri oleh masyarakat Yogyakarta
                             sebagai anugerah Gusti Allah, karena diselamatkan dari bencana kekeringan. Bahkan,
                             timbul pemahaman klasik bahwa air bukan unsur sembarangan dalam hidup. Air yang
                             bening ini menggiring pada kesadaran diri bahwa begitu sakral masyarakat Jawa klasik
                             memandang air sehingga melahirkan istilah banyu panguripan. Sementara dalam dunia
                             Barat, air disebut fons vitae (sumber hidup), dan penduduk Yunani menyebut nectar
                             (minuman para dewa).  Demi membuktikan vitalnya  banyu panguripan dalam jagad
                             Jawa, bisa lihat dari aneka istilah yang ada, semisal, tirta, tirta kamandalu, tirta nirmala,
                             toya pawira, toya marta, banyu mahapawitra, dan banyu bening pawitra sari.

                             Masyarakat Yogyakarta yang senang menikmati pertunjukan wayang tentunya pernah
                             mendengar sang dalang bilang dalam janturan jejer: ”...lenggak-lenggok lampahing toya
                             ingkang mijil saking sendang-sendang wening, tirtane pinara-para playune tinampi wadhuk
   391   392   393   394   395   396   397   398   399   400   401