Page 400 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 400
382 Toponim Kota Yogyakarta
banyak yang mengering. Padahal, selama hidup di Miliran puluhan tahun, ia mengaku
tak pernah kehabisan persediaan air bersih sekalipun terjadi kemarau panjang. Dari
tuturan warga, diketahui Kampung Miliran di masa silam merupakan daerah aliran air
yang bening. Atau, wilayah yang kaya akan sumber air sehingga masyarakat tak ragu
menamainya Kampung Miliran.
Dalam sejarah Jawa, Kampung Miliran bukanlah asing dan sudah ada dekade keempat
abad XIX. Tersuratkan juga dalam Javaansche Brieven karya Roorda (1845): babêkêl siti
dhusun ing Milir, ngajêng tumut Bêndara Radèn Mayor Wignyawinata, nanging dipun têbasakên
wontên Nyai Legoh, atur kawula katura ingkang parentah agêng, ingkang kawula aturakên,
kawula nuwun adil kang têrus kukum, Sarêng wanci jam sawêlas siyang, pun Dipayuda Pak
Latrog, griyanipun ing Milir wetan... Terjemahan bebasnya: menjadi Bekel tanah dusun
Milir, semula ikut Bendara Raden Mayor Wignyawinata, tetapi dipasrahkan kepada Nyai
Legoh, pesan saya supaya dihaturkan pemerintah, yang saya sampaikan, saya mengharap
keadilan dan kejelasan hukum, saat jam sebelas siang, Dipayuda Pak Latrog berumah
di Milir timur. Sumber: https://www.google.co.id/maps
Lokasi Kampung
Miliran

