Page 397 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 397

Toponim Kota Yogyakarta   379











                  binendung-nendung kinarya angileni  sawah myang pategalaning narakisma.” Terjemahan
                  bebasnya: “...berkelok-kelok air  mengalir  keluar  dari mata  air  yang  jernih, airnya
                  dibagi-bagi dimasukkan ke waduk-waduk untuk digunakan mengairi sawah dan ladang
                  para petani.”


                  Filolog termasyur yang dimiliki bangsa Indonesia, Poerbatjaraka (1940), ikut memberi
                  perhatian terhadap pengetahuan lokal mengenai air sebagai “air penghidupan” yang
                  termahtub dalam cerita Samudra Manthana. Dan, lumayan akrab di kuping orang-orang
                  sepuh di tlatah Jawa. Dikisahkan, suatu ketika para dewa bersama para daitya berupaya
                  mencari tirta amrta (air penghidupan) dengan cara mengaduk lautan susu (ksirarnawa)
                  yang dalam.

                  Peneliti budaya Jawa,  Woro  Aryandini (2002) mengutip Buku  Nawaruci,
                  menginformasikan perjuangan Bima mencari air penghidupan alias tirtha kamandalu,
                  banu mahapawitra, atau sang hyang amrtnjiwani. Dalam Manikmaya disebut toyadi marta
                  hyan kamandalu, yaitu air yang diminum para dewa sehingga dijauhi kematian. Sekali
                  lagi, toponim Kampung Umbulharjo bukan hanya membuktikan melimpahnya sumber
                  daya air yang bening di tlatah Yogyakarta, namun juga membawa pesan bagi manusia
                  dalam memperlakukan air sebagai anugerah Gusti Allah tak terperi.




                  Kelurahan Muja Muju: Kampung Miliran dan Balirejo



                  Wilayah Kelurahan Muja Muju di bawah Kecamatan Umbulharjo. Nama kampung
                  ini di masa  lampau  berhubungan  dengan dunia  flora. Kamus  Bauwarna garapan
                  Padmasusastra  (1898), menyebut lema  “muja  muju” yang berarti:  moedja  moedjoe,
                  mêgatsih, dan mungsi. Istilah tersebut dijumpai pula dalam kamus Bausastra Indonesia-
                  Jawi anggitan Purwadarminta yang lebih muda terbitnya (1939). Terminologi “muja-
                  muju” memiliki sinonim “jemuju”, yang artinya sejenis tumbuhan jinten. Keterangan
                  ini lebih gamblang dengan merujuk penjelasan KBBI bahwa jemuju ialah biji-bijian
                  yang bentuknya seperti jintan dan mungsi, biasanya untuk makanan  burung dan
                  digunakan pula sebagai campuran keju. Nama lain daun jintan di antaranya daun jinten,
                  bangun-bangun, daun hati-hati, Sukan (Melayu), Aceran (Sunda), daun Kucing dan daun
                  Kambing (Jawa), Majha Nereng (Madura), Iwak (Bali), Golong (Flores).
   392   393   394   395   396   397   398   399   400   401   402