Page 399 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 399

Toponim Kota Yogyakarta   381











                  yang direbus dapat dipakai membuat setrup guna mengusir sakit batuk.


                  Khasiat daun jinten bagi kesehatan terpatri hingga sekarang. Beberapa kalangan masih
                  menggunakan  jinten untuk memperlancar  produksi air  susu ibu (ASI), mengatasi
                  gangguan pencernaan, melancarkan buang air kecil, mengatasi gangguan pernafasan,
                  menyembuhkan luka dan borok, mengobati rematik dan nyeri otot-sendi, meningkatkan
                  daya tahan tubuh, sebagai tanaman hias dan sayuran kesehatan. Dari banyaknya manfaat
                  tumbuhan muja-muju atau jinten dalam  kehidupan manusia yang merentang sejak
                  berabad lampau, tidaklah mengherankan warga lokal mengabadikannya untuk nama
                  kampung.




                  1. Kampung Miliran


                  Ditelisik dari cerita setempat yang beredar lintas generasi, toponim Kampung Miliran
                  berhubungan dengan perkara air. Hal ini selaras dengan penjelasan Poerwadarminta
                  dalam kamus Bausastra Jawa (1939) bahwa terminologi milir berarti manut ilining banyu
                  (mengikuti aliran air). Kamus garapan Wintêr berjudul Têmbung Kawi Mawi Têgêsipun
                  (1928) juga menyuratkan keterangan yang sama mengenai lema milir yang berati ngèli.
                  Istilah milir berkaitan dengan penjelasan aliran air terekam pula dalam Babad Tanah Jawi
                  (Jilid 01: Pupuh 31-43): buyut sigra ngundhangi/ marang anak putunira/ prasami akarya
                  gèthèk/ akukuh pan sampun dadya/ ginayut êduk ika/ kang badhe titihanipun/ radèn arsa mêdal
                  toya|| banjur milir mring bênawi. Terjemahan bebasnya: buyut segera memerintahkan
                  kepada anak cucunya untuk membuat gethek, kuat dan sudah jadi, diikat dengan duk
                  sebagai kendaraannya, Raden hendak menuju ke air, lalu milir (menghanyut) di sungai.


                  Sejarawan  Pigeaud melalui  Nyanjata Sangsam (1953) turut mendokumentasikan
                  terminologi milir yang bertemali dengan air yang mengalir: silir-silir wong agung amilir/
                  asri bayak lampahing baita/ lir pêksi cakarwa langèn/ dulur-dulur aluntur/ kang gamêlan
                  munya ngrêrangin/ ringgit wor swaranira.

                  Dari keterangan pustaka di atas, kebenaran perihal riwayat Kampung Miliran semakin
                  nyata dengan melihat fenomena unjuk rasa warga sekitar berkenaan dengan menyusutnya
                  air bersih tahun 2012 akibat pembangunan hotel dan apartemen. Aksi Dodok Putra
                  Bangsa merespon ludesnya air bersih di daerah Miliran  menarik dicermati. Sumur
   394   395   396   397   398   399   400   401   402   403   404