Page 403 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 403

Toponim Kota Yogyakarta   385











                  Kelurahan Tahunan: Kampung Tahunan dan Celeban


                  1. Kampung Tahunan


                  Ditinjau  dari segi administrasi,  kampung  ini  sebelah utara  berbatasan  dengan
                  Kelurahan Semaki, sisi timur Kampung Glagah, pada bagian selatan dan barat dibatasi
                  Kampung Celeban. Muncul beberapa versi terkait muasal nama Kampung Tahunan
                  dari penggalian oral tradisi di lapangan. Pertama, tahunan berakar dari kata tau yang
                  menurut kamus Bausastra Indonesia-Jawi karangan Purwadarminta (1939) memiliki arti
                  pernah atau sudah. Warga di daerah ini pernah mengalami suatu kondisi tertentu yang
                  membekas pada masa lampau.

                  Kedua, lema tahu merujuk keterangan Purwadarminta mengandung arti  lelawuhan
                  sing digawe saka dele putih (lauk yang dibuat dari kedelai). Di kawasan ini ada industri
                  tahu atau bertempat orang yang membuat makanan tahu. Masyarakat sekitar kemudian
                  menamai lokasi tersebut sesuai dengan pemandangan atau kegiatan yang dilihatnya.
                  Tahu memang menjadi makanan populer di kalangan masyarakat sedari lama. Dari
                  temuan sejarawan Dennys Lombard (2006), tahu dibawa oleh imigran Tionghoa di
                  Nusantara berabad-abad silam. Ketiga, akar kata “tahun” atau taun yang mengacu pada
                  kurun waktu duabelas bulan. Dari intepretasi sejarah lokal, versi ketiga yang lebih
                  masuk akal sesuai dengan pengucapannya.


                  Di Kampung Tahunan, terdapat situs sejarah yang menarik dikupas dan tokoh yang
                  hidup  dalam  memori  masyarakat.  Makam  Kyai Ageng Purba  yang  diyakini  warga
                  sebagai tempat bersemayamnya putra Sultan Hamengkubuwana VI. Ia keluar dari
                  dalam keraton lantaran dianggap tampil eksentrik. Kedigdayaannya juga dipamerkan
                  di lingkungan istana menimbulkan risi penghuni istana. Maka, dirinya memilih angkat
                  kaki dari istana dengan menggelandang dan membangun kedekatan bersama rakyat
                  kecil. Kuburan ini disebut juga dengan makam Karang Kebolotan yang ditunggui tokoh
                  Semar. Sampai detik ini, makam Kyai Ageng Purba pada hari Selasa ataupun Jumat
                  Kliwon masih sering dikunjungi orang-orang sekitar Yogyakarta dengan aneka latar
                  belakang.

                  Juga  taman  makam  pahlawan Kusumanegara  yang semula  milik  keluarga  besar
                  Pudjoharjono. Pasca perang kemerdekaan Indonesia, tanah milik  Pudjoharjono  ini
   398   399   400   401   402   403   404   405   406   407   408