Page 434 - Ebook_Toponim Jogja-
P. 434
416 Toponim Kota Yogyakarta
kalantaka| wus têdhak saking turanggi| kangjêng gusti lajêng manjing pasanggrahan||
pinarak anèng pandhapa| Jayaningrat angabêkti| lan kang putra Jêng Pangeran| Dipati Anom
Matawis| Pangeran Sukawati| alon pangandikanipun| Ki Besan wus mupusa| ajal karsaning
Hyang Widhi| nora kêna ginawe padha manusa||
Terjemahan bebasnya: kemudian naik kuda| ditanya sepanjang jalan| tidak lama
kemudian datang| orang Mataram berbaris| dipinggir jalan| datang dentuman
tembakan| meriam kalantaka| sudah turun dari kuda| kangjeng gusti kemudian masuk
di pesanggrahan|| duduk di pendapa| Jayaningrat menyembah| beserta putranya Jeng
Pangeran| Dipati Anom Mataram| Pangeran Sukawati| begitu pelan perkataannya|
Ki Besan sudah terimalah| mati kehendak Tuhan| tidak bisa atas kehendak sesama
manusia.
Dalam atlas sejarah keraton Kasultanan Yogyakarta, istilah sanggrahan maupun
pembangunannya merupakan sesuatu yang lumrah disebut. Lembaran sejarah merekam
pasca Perjanjian Giyanti ditandatangani tahun 1755, Hamengkubuwana I bermukim
di Pesanggrahan Arnbarketawang di Gamping sementara waktu seraya menanti
pembangunan keraton kelar. Pesanggrahan juga termasuk komponen utama kota lama
selain alun-alun, Masjid Gedhe, Pasar (Beringharjo), Tugu (Pal Putih) dan Panggung
Krapyak (bagian dari garis poros).
Buku Toponim Kota Yogyakarta (2007) menerangkan sanggrahan banyak dibangun
periode Hamengkubuwana II. Misalnya antara lain Pesanggrahan Rejokusumo,
Rejowinangun; Purworejo, Pelemsewu, Pengawatrejo, Cendhanasari, Gua Siluman,
Sonosewu, Sonopakis, dan lainnya. Pesanggrahan Rejowinangun populer dengan
nama Warungbata, dekat Sungai Gajahwong. Di samping itu, di sekitar negaragung
banyak juga dibangun beberapa pesanggrahan dan pasiraman. Raja juga membangun
pesanggrahan di sekitar Pengasih. Hamengkubuwana III mendirikan pesanggrahan
Bulurejo Kulon Progo, sedang Hamengkubuwana VII membangun pesanggrahan
Ambarbinangun, Ambarukmo, dan tempat pacuan kuda (Balapan). Tak ketinggalan
pembesar Paku Alaman turut bikin sanggrahan di Glagah, Temon, Kulon Progo era
Paku Alam V.
Bila diamati, area pesanggrahan dia tak melupakan unsur air, atau dekat sumber air.
Juga pertamanan, atau kebun buah. Disertai kelengkapan kamar untuk istirahat, dan

