Page 102 - Sun Flower Full Naskah
P. 102
“Ooh… selama ini aku selalu sholat di ruanganku.”
“Ah! Sudah ah! Kalau masih tidak percaya kau datangi
saja seluruh cabang restoran mewah milik Bunda dan lihat apa
ada yang menjual minuman keras. Ah iya! Aku memang belum
cerita kalau restoranku itu dulu sebenarnya milik Bunda. Sama
halnya seperti rumah yang aku tempati.”
“Dan Hae-Seol, kau harus tahu Bunda tidak membe-
da-bedakan orang. Kalau orang itu baik, Bunda menyukainya.
Kau tahu sendiri kan karakter Bunda.”
“So-Ra… Kau bisa mencubit lenganku?”
Lee So-Ra tahu Hae-Seol melakukan itu sebagai tinda-
kan waspadanya kalau saja ia sedang bermimpi, namun kesem-
patan itu So-Ra manfaatkan untuk melampiaskan kekesalannya
pada Hae-Seol. Jadilah Hae-Seol meringis kesakitan. So-Ra puas.
***
“Selamat datang di Indonesia, So-Ra!”
“Dari pijakan pertama saja aku sudah jatuh cinta dengan
Negara ini.”
“Ah, masa? Padahal di sini tidak ada Park Kyung-Shin.
Kenapa kau bisa jatuh cinta?”
“Kau mau aku kejar sampai ke rumahmu?” tanya So-Ra
yang dibalas tawa oleh Hae-Seol. Mereka benar-benar menjadi
akrab seperti di mimpi yang kini ingin dilupakan Hae-Seol. Ke-
napa harus berlama-lama tenggelam dalam mimpi belaka? Jika
kenyataan jauh lebih menyenangkan saat hati telah memilih un-
tuk berbahagia.
Melihat Hae-Seol tampak bahagia bisa menginjakkan
kaki di tanah kelahirannya, So-Ra juga senang. Untung saja tadi
Hae-Seol juga membeli tiket ke Jepang, sebab baru saja So-Ra
mengaktifkan ponselnya dan mendapat pesan dari Bunda agar
So-Ra menjaga Hae-Seol sebab ada beberapa orang yang seka-
rang berada di Jepang mencari mereka.
Lalu juga ada pesan dari Park Kyung-Shin untuk
menyuruh So-Ra lebih hati-hati sebab Ayahnya benar-benar
ingin menjerat Hae-Seol. Dan So-Ra juga terlibat. Gagal men-
96

