Page 106 - Sun Flower Full Naskah
P. 106
Masih dengan tawa cerianya Hae-Seol tak lelah menga-
jak So-Ra jalan-jalan. Bersama mereka juga ikut Rian dan teman
Rian yang sangat bahagia bisa berjumpa dengan Lee So-Ra. Ia
juga berterimakasih pada Hae-Seol karena tak melupakannya
dan justru memberikan hadiah dari Seoul.
“Eh, namamu siapa sih? Dulu kakak lupa bertanya.”
“Gunawan, Nuna,”
“Oh, panggilannya Guna-guna?”
“Haha… bukanlah Nuna, nama panggilanku Roy,”
“Loh? Kok jauh sekali?” mereka tertawa, namun Hae-
Seol terdiam sesaat. Iya! Yang ia dengar tadi adalah Roy dan bu-
kan Ray. Ia pun tertawa saat yang lain sudah berhenti. Tak pelak
lagi tatapan mereka tertuju pada Hae-Seol.
Meski ia lupa akan keseluruhan naskah yang diberikan
Kim Tae-Jin dimimpinya, Hae-Seol tak melupakan saat-saat ba-
hagia dengan teman-teman meski sulit ia terima bahwa itu ha-
nyalah mimpi belaka. Lagi-lagi ia mendapati kenyataan seolah
berjalan sesuai dengan yang ia perankan seperti dulu saat ia ak-
tif di teater.
Ia benar-benar ingin bertanya, tapi tak tahu harus ber-
tanya pada siapa. Karena itu Hae-Seol membiarkan saja yang
terjadi selagi apa yang dilakukannya adalah hal yang ia sukai,
maka ia tak akan keberatan. Setelah ini Hae-Seol tak akan me-
merankan apapun, ia akan jadi diri sendiri dan menjalani ke-
hidupannya.
***
Kata orang, kalau lagi bahagia itu waktu seperti ber-
jalan sangat cepat. Iya! Waktu berlalu begitu cepat hingga yang
dirasakan seperti belum melakukan apa-apa, bahkan rindu saja
rasanya belum usai. Ah, bukankah yang namanya rindu tak
akan pernah usai? Memang tak akan ada akhirnya. Sekalipun
sudah bertemu namun, saat perpisah lagi maka rindu justru leb-
ih hebat lagi.
Siapa sih yang menyukai perpisahan? Kalaupun me-
mang ada, pastilah orang itu merasa terkekang. Namun seka-
100

