Page 104 - Sun Flower Full Naskah
P. 104

Hae-Seol memeluk Mama, ia rindu. Sangat. Sampai-sam-
          pai matanya memerah.  Ia  juga sangat merindukan Ayahnya.
          Betapa lelaki itu sangatlah hebat,  Hae-Seol selalu mengagumi
          Ayahnya. Dan Rian yang sekarang tersenyum melihat kedatan-
          gan Hae-Seol, sungguh ia bahagia bisa melihat adiknya.
                 “Oh iya Ma, Yah, dan Rian kenalkan ini sahabat Hazel.
          Lee So-Ra.”
                 Lee So-Ra membungkukkan badannya, kedua orangtua
          Hae-Seol mengerti dan tidak heran dengan yang dilakukan So-
          Ra, mereka pernah mendengar hal itu dari Hae-Seol.
                 Dalam hatinya So-Ra kagum pada Hae-Seol. Ke-
          hidupannya sempurna meski sederhana. Rasanya ada sesuatu
          yang menyesakkan di dada So-Ra. Ia ingat kedua orangtuanya,
          namun ia sudah ikhlas akan kepergian mereka menuju tempat
          yang lebih baik. Dan So-Ra menyesalkan buruknya kondisi
          Kang Ji-Woo yang sekarang menderita sakit sejak kecelakaan itu
          dulu.
                 Bunda pernah mengatakan itu pada So-Ra sebelum ia
          tahu bahwa ternyata  yang dimaksud Bunda adalah Kang Ji-
          Woo. Saat itu ia juga tak menanyakan nama anak Bunda. Tetapi
          So-Ra tidak memberitahu Hae-Seol, kasihan gadis itu. Ia sudah
          tersiksa dengan perasaan rindu, tak mungkin So-Ra menam-
          bah rasa sakit Hae-Seol dengan memberitahu keadaan Kang Ji-
          Woo. Lee So-Ra yakin kelak Kang Ji-Woo bisa sembuh. Ia sangat
          mengharapkan itu.
                 “So-Ra, sini kopermu aku letakkan di kamar.”
                 Mengikuti Hae-Seol, Lee So-Ra melihat banyak  foto
          yang terpajang di dinding kamar Hae-Seol. Dan di tengah-ten-
          gah foto yang terpajang ada tulisan; kelak kau pasti merindukan
          aku segila aku merindukanmu. Tampak itu seperti tulisan Hae-Seol
          remaja.
                 “Wah, masa remajamu sudah bisa merangkai kata-kata
          seperti ini.”
                 “Loh? Kau bisa membaca bahasa Indonesia?”
                 “Haha, bisa lah. Dulu aku kan kerja di kedutaan dan
          mendapat banyak tamu dari berbagai Negara. Jadi, aku dituntut
          bisa menguasai banyak bahasa.”

                                     98
   99   100   101   102   103   104   105   106   107   108   109