Page 206 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 APRIL 2021
P. 206

UU  Cipta  Kerja  mengatur  dalam  hal  PHK  tidak  dapat  dihindari,  maksud  dan  alasan  PHK
              diberitahukan oleh pengusaha kepada buruh dan/atau serikat buruh. Sebelumnya dalam Pasal
              151 UU Ketenagakerjaan mengatur jika semua upaya telah dilakukan, tetapi PHK tidak dapat
              dihindari, maka PHK wajib dirundingkan oleh pengusaha dan serikat buruh atau dengan buruh
              bila buruh yang bersangkutan tidak menjadi anggota serikat buruh. Jika perundingan itu tidak
              menghasilkan  persetujuan  (kesepakatan),  pengusaha  hanya  dapat  melakukan  PHK  setelah
              memperoleh penetapan dari lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial.

              Hakim Ad Hoc PHI pada MA RI, Sugeng Santoso, mengatakan melalui UU Cipta Kerja pemerintah
              memberi kemudahan bagi pelaku usaha untuk melakukan PHK. Dengan surat pemberitahuan
              itu, berarti pengusaha dapat melakukan PHK tanpa melakukan perundingan terlebih dulu dengan
              serikat buruh atau buruh yang bersangkutan.

              PP No.35 Tahun 2021 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu, Alih Daya, Waktu Kerja dan
              Waktu Istirahat, dan Pemutusan Hubungan Kerja (PP PKWT-PHK) menyebutkan pemberitahuan
              PHK itu dibuat dalam bentuk surat dan disampaikan secara sah dan patut oleh pengusaha kepada
              buruh dan/atau serikat buruh paling lama 14 hari kerja sebelum PHK. Untuk buruh dalam masa
              percobaan, surat pemberitahuan disampaikan paling lama 7 hari kerja sebelum PHK.

              Setelah  buruh  menerima  pemberitahuan  itu  dan  tidak  menolak  PHK,  pengusaha  harus
              melaporkan  PHK  kepada  Kementerian  Ketenagakerjaan  dan/atau  dinas  ketenagakerjaan  di
              tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Bagi buruh yang menolak PHK itu harus membuat surat
              penolakan  lengkap  dengan  alasannya  paling  lama  7  hari  kerja  setelah  diterimanya  surat
              pemberitahuan itu. Perundingan bipartit dilakukan untuk menyelesaikan perselisihan PHK ini.
              Jika bipartit tidak mencapai kesepakatan, proses selanjutnya mengikuti mekanisme penyelesaian
              perselisihan hubungan industrial sesuai aturan.

              "Sekarang  PHK  tidak  perlu  lagi  didahului  penetapan  dari  lembaga  penyelesaian  perselisihan
              hubungan industrial, pengusaha hanya perlu memberitahukan maksud dan alasan PHK kepada
              buruh. Perundingan baru bisa dilakukan jika buruh menolak PHK," kata Sugeng dalam webinar
              bertajuk  "Hukumonline  Bootcamp  2021:  Seluk  Beluk  Pengaturan  Ketenagakerjaan  dalam
              Peraturan Pelaksana UU Cipta Kerja (Sesi II)", Senin (5/4/2021).

              ( Pertama, buruh mengundurkan diri atas kemauan sendiri.

              Kedua, PHK karena berakhirnya perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).
              Ketiga, mencapai usia pensiun sesuai dengan perjanjian kerja, Peraturan Perusahaan (PP) atau
              perjanjian kerja bersama (PKB).

              Keempat, buruh meninggal dunia.

              Sugeng  menerangkan  dalam  hal  pengusaha  dan  buruh  sepakat  untuk mengakhiri  hubungan
              kerja, tidak perlu lagi surat pemberitahuan PHK. Selanjutnya, menuangkannya dalam perjanjian
              bersama  yang  didaftarkan  ke  pengadilan  hubungan  industrial  (PHI).  Tapi  pengusaha  perlu
              melaporkan PHK ini kepada disnaker setempat karena ini berkaitan dengan hak buruh terhadap
              program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).


              "Bagi buruh yang sudah mengakhiri hubungan kerja itu dan langsung bekerja di perusahaan lain,
              maka dia tidak berhak lagi mendapat manfaat JKP.








                                                           205
   201   202   203   204   205   206   207   208   209   210   211