Page 658 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 658

Ketua Umum Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Sandang Dan Kulit (FSP TSK) SPSI
              yang juga Presidium Aliansi Gekanas (Gerakan Kesejahteraan Nasional), Roy Jinto mengatakan,
              unjuk rasa dan mogok nasional terkait dengan penolakan Rancangan Undang-Undang atau  RUU
              Cipta Kerja  yang disetujui menjadi Undang-Undang (UU) dalam Rapat Paripurna.



              BURUH JABAR BERGERAK GELAR AKSI MOGOK NASIONAL

              Bandung -   Berbagai elemen  buruh  dan sejumlah serikat pekerja di berbagai daerah  Jawa
              Barat  akan berunjuk rasa dan menggelar  aksi mogok nasional  mulai Senin (5/10) hari ini hingga
              Kamis (8/10).

              Ketua Umum Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Sandang Dan Kulit (FSP TSK) SPSI
              yang juga Presidium Aliansi Gekanas (Gerakan Kesejahteraan Nasional), Roy Jinto mengatakan,
              unjuk rasa dan mogok nasional terkait dengan penolakan Rancangan Undang-Undang atau  RUU
              Cipta Kerja  yang disetujui menjadi Undang-Undang (UU) dalam Rapat Paripurna.

              "Buruh pada Senin 5 Oktober 2020, melakukan aksi penolakan di DPR RI walaupun dihalang-
              halangi oleh aparat kepolisian dengan acara mencegat rombongan buruh yang akan berangkat
              ke DPR RI, memblokade kawasan-kawasan industri di Bekasi, Tangerang, dan Jakarta," ujar Roy
              dalam keterangan tertulis, Senin (5/10).

              Roy menambahkan, pada 6-8 Oktober 2020, kaum buruh siap melakukan aksi nasional secara
              serentak di seluruh kabupaten/kota se-Indonesia untuk menolak Omnibus Law RUU Cipta Kerja.

              "Aksi ini upaya terakhir kaum buruh untuk menjegal agar Omnibus law RUU Cipta Kerja ini tidak
              disahkan," tegasnya.

              Menurut Roy, aksi kalangan buruh dilaksanakan secara konstitusional sesuai dengan UUD 1945,
              UU 9/1998 dan pasal 4 UU 21/2000, dengan tetap melaksanakan protokol Covid-19, yaitu dengan
              memakai  masker,  membawa  hand  sanitizer,  dan  menjaga  jarak.  Buruh  juga  berjanji  akan
              menggelar demo secara tertib dan damai.

              Pembahasan RUU Cipta Kerja di tingkat I antara Badan Legislatif (Baleg) dengan pemerintah
              telah dilaksanakan pada Sabtu, (3/10) malam. Pembahasan ditandai dengan pandangan mini
              fraksi. Hanya dua fraksi yang menolak pembahasan RUU tersebut yakni Demokrat dan PKS.

              Selanjutnya, RUU Cipta Kerja diteruskan ke tingkat II yaitu Rapat Paripurna pengesahan. Adapun
              tujuh fraksi setuju dilanjutkan ke Paripurna.

              "Keputusan Baleg dan pemerintah tersebut sangat membuat kaum buruh kecewa dan marah
              kepada  DPR  RI,  karena  DPR  RI  tidak  mencerminkan  sebagai  wakil  rakyat  di  mana  rakyat
              khususnya  kaum  buruh  jelas  menolak  Omnibus  Law  RUU  Cipta  Kerja  khususnya  klaster
              ketenagakerjaan," ujar Roy.

              Roy menyayangkan sikap Baleg DPR yang terus melakukan pembahasan baik pada hari libur
              sampai tengah malam. Hal ini, kata dia, mengindikasikan bahwa RUU Cipta Kerja sedang kejar
              tayang.

              "Dalam  situasi  pandemi  seperti  ini  kami  menilai  Omnibus  law  RUU  Cipta  Kerja  tidak  akan
              menjawab  persoalan  ekonomi  maupun  investasi  karena  dengan  terus  meningkatnya  angka
              positif Covid-19 di Indonesia investor pun tidak akan masuk ke Indonesia, justru seharusnya
              pemerintah dan DPR RI fokus pada penanganan Covid-19 sehingga dunia internasional percaya
              kepada Indonesia mampu menangani Covid-19," ujar Roy.



                                                           657
   653   654   655   656   657   658   659   660   661   662   663