Page 786 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 786

RUU  tersebut  disahkan  akan  memberi  gambaran  kalau  masa  depan  rakyat  Indonesia  akan
              suram. Sebab, selain pekerja akan dibayar murah dan tanpa jaminan, tanah rakyat pun dapat
              diambil dengan mudah untuk kepentingan negara dan bisnis.

              Haris menegaskan, RUU Cipta Lapangan Kerja yang kini disebut sebagai RUU Ciptaker, tidak
              membuka  lapangan  pekerjaan,  tetapi  memanfaatkan  tenaga  muda  Indonesia  yang  sedang
              membludak dengan biaya murah, dan tidak ada jaminan hak maupun yang lainnya.



              PENGAMAT SEBUT DAMPAK OMNIBUS LAW LEBIH PARAH DIBANDING COVID-19

              Sejumlah pihak mengingatkan bahaya dari RUU Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker). Peringatan,
              salah  satunya  datang  dari  Direktur  Eksekutif  Lokataru,  Haris  Azhar.  Menurutnya,  jika  RUU
              tersebut disahkan akan memberi gambaran kalau masa depan rakyat Indonesia akan suram.
              Sebab, selain pekerja akan dibayar murah dan tanpa jaminan, tanah rakyat pun dapat diambil
              dengan mudah untuk kepentingan negara dan bisnis. "Hari ini dihempas virus corona, ke depan
              kita  akan  disingkirkan  oleh  praktik  omnibus,  dan  akan  lebih  parah,"  ujar  Haris,  Senin
              (4/10/2020).

              Haris menegaskan, RUU Cipta Lapangan Kerja yang kini disebut sebagai RUU Ciptaker, tidak
              membuka  lapangan  pekerjaan,  tetapi  memanfaatkan  tenaga  muda  Indonesia  yang  sedang
              membludak dengan biaya murah, dan tidak ada jaminan hak maupun yang lainnya. "Omnibus
              Cilaka, sangat pro praktik bisnis untuk eksploitasi lahan dan tenaga kerja, sementara di sisi lain,
              pengusaha bahkan juga diberi keringanan pajak," katanya.

              Mantan koordinator KontraS itu juga menjelaskan kalau RUU disahkan pada 8 Oktober, maka
              akan menjadi legalisasi untuk dominasi kroni pemerintah pusat, karena Izin dari Pemda sangat
              minim, dan Pemda pun hanya akan menjadi pelaksana tugas sektor bisnis, dan alat represi ke
              masyarakat.

              Selain itu, hak atas tanah akan sangat tergantung oleh kehendak negara, dan tanah pun akan
              semakin mudah diambil negara dan pelaku bisnis. "Tanah rakyat akan habis jika sekali "ditunjuk"
              oleh negara untuk diberikan ke sektor bisnis," ketusnya.

              Dijelaskan Haris, rakyat Indonesia perlu curiga kalau DPR menyetujui RUU karena adanya barter
              dengan  kebijakan  Pilkada  yang  dipaksakan  untuk  tetap  dilaksanakan  di  tengah  merebaknya
              pandemi COVID-19. "Pilkada adalah bisnis politik, (karena itu penyelenggaraannya) dibanyakin
              tempat. Kalau dihentikan, akan mengganggu kenikmatan "mereka". Dilanjutkan asal Omnibus
              digolkan. Barter, padahal ini jebakan," tandas dia.

              Sementara itu, Koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam Fraksi Rakyat Indonesia (FRI)
              mendesak  DPR  dan  pemerintah  untuk  membatalkan  RUU  Omnibus  Law  Cipta  Kerja.  Mereka
              menilai RUU ini akan merugikan berbagai aspek kehidupan masyarakat.

              "Meski  ditentang  oleh  banyak  kelompok  masyarakat  pemerintah  dan  DPR  memaksakan
              pengasahan RUU Omnibus Law. Padahal jelas sudah bahwa setiap pasal-pasal dalam Omnibus
              Law justru menunjukkan negara mengabaikan hak rakyat, untuk hidup bermartabat dan justru
              mempercepat pengrusakan lingkungan," kata Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
              Indonesia (YLBHI) Asfinawati.

              "Siapakah  yang  paling  merugi  dengan  adanya  RUU  Omnibus  Law  Cipta  Kerja?  kita  semua,
              contohnya  omnibus  law  cipta  kerja  membuat  pengusaha  dapat  menikmati  hak  guna  usaha
              langsung 90 tahun padahal sebelumnya hanya 25 atau 35 tahun dengan perpanjangan 25 tahun
              jika perusahaan memenuhi syarat," katanya  . (wok).

                                                           785
   781   782   783   784   785   786   787   788   789   790   791