Page 788 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 788

Di  tengah  berbagai  pro  dan  kontranya,  RUU  ini  setahap  lagi  akan  berlaku  di  Tanah  Air.
              Bagaimana perjalanannya?  RUU Cipta Kerja pertama kali disampaikan Presiden Joko Widodo
              kepada  ketua  DPR-RI  melalui  Surat  Presiden  Nomor:  R-06/Pres/02/2020  tanggal  7  Februari
              2020.

              Surat  itu  menugaskan menteri  Koordinator  Bidang  Perekonomian  bersama  10  menteri  untuk
              mewakili Presiden dalam pembahasan RUU Cipta Kerja di DPR-RI. Di antaranya menteri Hukum
              dan  HAM,  menteri  Keuangan,  menteri  Ketenagakerjaan,  menteri  Dalam  Negeri,  menteri
              Lingkungan Hidup dan Kehutanan, menteri Agraria dan Tata Ruang/kepala Badan Pertanahan
              Nasional (BPN), menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menteri Koperasi dan Usaha
              Kecil Menengah, menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan menteri Pertanian.

              Proses pembahasan pun dilakukan bersama Badan Legislasi (Baleg) DPR RI melalui Panitia Kerja
              (Panja) RUU Cipta Kerja, sejak 20 Mei 2020. Tak kurang dari 63 kali rapat panja telah digelar.

              Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan, pembahasan
              tersebut dilakukan secara terbuka dan transparan baik saat tatap muka maupun daring.

              "Telah dilakukan 63 kali rapat pembahasan, 56 kali Rapat Panja, 6 kali Rapat Tim Mus/Tim Sin
              dan 1 kali Rapat Kerja, yang dilakukan secara terbuka dan transparan," kata Airlangga dikutip
              dari keterangan tertulis, Senin, 5 Oktober 2020.
              Dia  menekankan,  RUU  Cipta  Kerja  terdiri  atas  15  Bab  dan  174  pasal.  Secara  garis  besar
              mencakup  peningkatan  ekosistem  investasi  dan  kemudahan  perizinan,  perlindungan  serta
              pemberdayaan UMKM dan koperasi.

              Kemudian,  berkaitan  dengan  ketenagakerjaan,  riset  dan  inovasi,  kemudahan  berusaha,
              pengadaan lahan, kawasan ekonomi, investasi pemerintah pusat serta proyek strategis nasional,
              dukungan administrasi pemerintahan hingga sanksi.

              Airlangga meyakini, cakupan substansi tersebut akan dapat mendukung upaya bersama untuk
              mendorong peningkatan kegiatan ekonomi dan investasi.

              "Sehingga akan dapat menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat, dan pada
              akhirnya akan mampu mendorong perekonomian nasional kita," tutur Airlangga. (art).
































                                                           787
   783   784   785   786   787   788   789   790   791   792   793