Page 856 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 856
Bagaimanapun, Ketua Komite Tetap Ketenagakerjaan Kamar Dagang dan Industri (Kadin)
Indonesia Bob Azam berkeyakinan RUU Ciptaker adalah amunisi utama Indonesia dalam
menghadapi kenormalan baru pascapandemi. "Isu ketenagakerjaan adalah persoalan lama.
Tanpa RUU ini, kita akan ketinggalan dibandingkan dengan negara lain sementara mereka sudah
siap menghadapi kenormalan baru," kata Bob.
Terkait dengan finalisasi RUU yang dikebut hanya dalam beberapa bulan, Bob berpendapat
persiapan menghadapi kenormalan baru memang harus dilakukan paralel dengan penanganan
Covid-19.
Dia pun menyebutkan manfaat beleid ini nantinya tak hanya akan dirasakan oleh dunia usaha,
tetapi juga bagi angkatan kerja di Tanah Air yang menghadapi tantangan defisit lapangan kerja.
"Sekarang arahnya sudah digitalisasi, Industri 4.0. Kalau seperti ini terus, kita tidak bisa merebut
peluangnya," ujarnya.
TIDAK MUDAH
Berpandangan berbeda, Kepala Ekonom CSIS Yose Rizal Damuri menggarisbawahi RUU Ciptaker
tidak akan serta merta menjawab target ekonomi yang ditetapkan pemerintah dan pengusaha.
Meski penanaman modal asing (PMA) terbilang tinggi, Yose mencatat persentasenya terhadap
produk domestik bruto (PDB) kecil dibandingkan dengan negara Asean lain.
"Secara nominal memang besar. Namun, jika dibandingkan dengan size ekonomi tidaklah besar.
Jika dihitung, kontribusi PMA hanya 1,9% dari PDB RI. Di Thailand itu sekitar 3% dan di Vietnam
mencapai 6%," ujar Yose.
Tak hanya itu, kehadiran investasi tak selamanya diiringi dengan penyerapan tenaga kerja baru.
Dalam catatan CSIS, tiap persen pertumbuhan ekonomi pernah menciptakan 300.000 sampai
450.000 lapangan kerja sebelum krisis 1998 sampai awal 2000-an.
Namun, tren tersebut bergeser menjadi hanya 200.000 lapangan kerja baru untuk tiap persen
pertumbuhan ekonomi.
Atas dasar itu, Yose menilai RUU Cipta Kerja harus bisa mengakomodasi kehadiran investasi
yang berorientasi padat karya, Pemerintah pun perlu mengintervensi sehingga investor berminat
menanamkan modal di sektor padat karya.
"Memang RUU Ciptaker bisa mendatangkan investasi. Namun, perlu dilihat pula investasi
tersebut haruslah yang mempekerjakan orang, jangan lari ke industri padat modal. Kita perlu ini
agar bonus demografi tak berbalik menjadi beban," kata Yose.
Setali tiga uang, Ekonom Senior Indef Aviliani memprediksi dampak positif RUU Ciptaker
terhadap investasi dan pasar kerja tidak akan signifikan dalam waktu dekat.
Alih-alih mengebut ratifikasi beleid tersebut, dia menilai pemerintah seharusnya memetakan
insentif yang mengakomodasi industri dengan permintaan yang masih ada.
"RUU ini dibahas tergesa-gesa dan dibuat dengan persepsi yang mengutamakan supply, bukan
demand. Jika investasi datang, apakah sudah dipetakan barang produksinya akan dipasarkan ke
mana?" ujar Aviliani.
Dia juga mengatakan RUU Cipta Kerja justru berpotensi kontraproduktif terhadap upaya
perbaikan pasar kerja. Pasalnya, aturan sektor ketenagakerjaan yang tertuang dalam aturan ini
berpotensi mereduksi upah yang diterima pekerja.
855

