Page 855 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 6 OKTOBER 2020
P. 855

Adapun, target-target yang hendak digapai pemerintah melalui RUU Cipta Kerja a.l. penciptaan
              lapangan kerja baru sebanyak 2,7 juta-3 juta per tahun, naik dari rerata saat ini sebanyak 2 juta
              per tahun.

              Lalu, peningkatan investasi sebesar 6,6%-7% per tahun serta peningkatan konsumsi di angka
              5,4%-5,6% per tahun.

              Melalui RUU ini, sejumlah aturan ketenagakerjaan pun disesuaikan.

              Salah  satu  kontroversi  dalam  RUU  Ciptaker  klaster  ketenagakerjaan  adalah  isu  pesangon.
              Terlebih, besaran pesangon di Indonesia dinilai sebagai faktor utama yang menyebabkan biaya
              investasi  dan  kemudahan  berbisnis  di  Indonesia  kalah  saing  dibandingkan  dengan  negara
              tetangga.

              Kemenko Perekonomian mencatat rerata pesangon yang dibayarkan di Indonesia mencapai 52
              pekan. Jumlah ini telak lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand sebesar
              32 pekan, Vietnam 23 pekan, Filipina 23 pekan, dan Malaysia 17 pekan.

              Dalam  pembahasan  klaster  ketenagakerjaan  RUU  Ciptaker  sebelumnya,  besaran  pesangon
              disepakati sebesar 32 kali upah dengan skema 23 kali ditanggung pelaku usaha dan 9 kali oleh
              pemerintah melalui program jaminan kehilangan pekerjaan (JKP).

              Meski demikian, Staf Ahli Bidang Regulasi, Penegakan Hukum, dan Ketahanan Ekonomi Kemenko
              Perekonomian Elen Setiasi mengusulkan perubahan skema dalam rapat kerja Badan Legislasi
              DPR RI.

              Dalam draf terakhir RUU Ciptaker, pesangon korban pemutusan hubungan kerja (PHK) akhirnya
              ditetapkan maksimal 19 kali gaji ditambah dengan JKP 6 kali gaji yang pengelolaannya diatur
              oleh pemerintah. Dengan demikian, korban PHK akan memperoleh maksimal 25 kali gaji. Ketua
              Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi

              Sukamdani memastikan nantinya korban PHK tetap menerima jaminan kehilangan pekerjaan dari
              pemerintah, alih-alih dari pemberi kerja sebagaimana aturan yang berlaku selama ini.

              "(Pesangon) yang dibayarkan perusahaan iya benar turun, tetapi diganti dengan unemployment
              benefit (yang ditanggung pemerintah)    Itu (pembayarannya) melalui BPJS Ketenagakerjaan,"
              kata Hariyadi.

              Dengan  demikian,  Hariyadi  menegaskan  pengusaha  tidak  akan  lagi  fokus  pada  pemberian
              pesangon karena orientasinya lebih pada upaya mempertahankan pekerja diam jangka panjang.
              Prinsipnya, makin banyak pekerja formal dalam jangka panjang, perekonomian akan makin kuat.

              "Memang dunia usaha berkepentingan pada ekonomi yang kuat karena dengan demikian daya
              beli akan naik. Saat daya beli naik, barang produksi pun naik," ujarnya.

              Lain sikap, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal maklum jika JKP
              dimaksudkan sebagai bentuk perhatian pemerintah agar korban PHK tidak terlalu lama mencari
              pekerjaan atau menyesuaikan dengan pekerjaan yang baru.

              Namun, menurutnya, pekerja tetap membutuhkan kejelasan dari skema ini, baik untuk pegawai
              tetap maupun kontrak. Pasalnya, dia menilai mustahil anggaran pemerintah dapat menanggung
              sebagian beban pesangon dari seluruh pekerja terdampak PHK.

              "Skemanya katanya mau dibayar pemerintah tetapi tidak jelas anggarannya dari mana. Nah,
              akibat pandemi atau resesi ekonomi, akan ada jutaan buruh yang di-PHK. Apa benar dana APBN
              cukup untuk membayar pesangon buruh sebanyak 6 bulan gaji yang ditanggung pemerintah?
              Bisa jebol APBN," ujarnya.
                                                           854
   850   851   852   853   854   855   856   857   858   859   860