Page 442 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 20 APRIL 2021
P. 442

MENGAPA THR 2021 DILARANG DICICIL & RISIKO SANKSI BAGI PENGUSAHA

              Perusahaan wajib membayarkan THR 2021 tanpa dicicil paling lambat tujuh hari sebelum hari
              raya. Perusahaan wajib membayarkan tunjangan hari raya (THR) keagamaan paling lambat tujuh
              hari sebelum hari raya secara penuh.

              Demikian  bunyi  Surat  Edaran  Menteri  Tenaga  Kerja  Nomor  M/6/HK.04/IV/2021  tentang
              Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2021 bagi Pekerja/Buruh di
              Perusahaan tertanggal 12 April 2021.

              Isi  SE  Menaker  tersebut  juga  mengatur  jika  perusahaan  yang  terdampak  COVID-19  dapat
              berdialog dengan  pekerja  untuk  mencapai  kesepakatan  pembayaran  THR.  Kalau  perusahaan
              tidak  mampu  mengucurkan  THR,  perlu  disertai  bukti  ketidakmampuan  dan  perusahaan
              melaporkan hasil diskusi dengan pekerja ke dinas terkait paling lambat tujuh hari sebelum hari
              raya keagamaan.

              Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menolak rencana pembayaran
              THR  tahun  ini  dicicil  seperti  tahun  kemarin.  Sementara,  Menteri  Koordinator  Bidang
              Perekonomian  Airlangga  Hartarto  meminta  pengusaha  membayar  THR  kali  ini  secara  penuh
              karena saat ini kondisi ekonomi sudah mulai pulih setelah "berbagai stimulus sudah diberikan"
              oleh pemerintah.
              Ketua  Kongres  Aliansi  Serikat  Buruh  Indonesia  (KASBI)  Nining  Elitos  menilai  surat  edaran
              tersebut tidak mendedah substansi secara komprehensif; pemerintah tidak memberikan tolak
              ukur dampak bagi perusahaan yang dihantam efek COVID-19.

              Ia khawatir surat tersebut jadi 'tameng' perusahaan untuk tidak memenuhi hak-hak para pekerja.
              "Sedangkan  perusahaan  selama  ini  mayoritas  masih  beroperasi,  sedangkan  surat  edaran
              sebelumnya  mengenai  perusahaan  terdampak  pandemi,  bikin  perusahaan  berlomba-lomba
              membayar  upahnya  20  persen,  50  persen,  bahkan  ada  sama  sekali  tidak  dibayar.  Padahal
              perusahaan tetap beroperasional, bahkan buruhnya lembur," ujar Nining kepada Tirto, Kamis
              (15/4/2021).

              Pemerintah mudah meminta pekerja melakukan perundingan dengan perusahaan, tapi menurut
              Nining, pekerja dan pengusaha relasinya tidak setara. Kondisi tersebut diperburuk oleh lemahnya
              pengawasan dan penegakan hukum terhadap korporasi. Lantas, idealnya THR 'dikembalikan'
              sesuai dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 6 Tahun 2016 ihwal Tunjangan Hari Raya
              Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan yakni pengusaha wajib memberikan THR.

              THR  2021  Jangan  Dicicil  Kasubag  Pemberitaan  Kementerian  Ketenagakerjaan  Dicky  Risyana
              menekankan bahwa surat edaran tersebut tidak memperbolehkan perusahaan untuk mencicil
              pembayaran THR 2021. "[THR] tidak boleh [dicicil]," kata dia kepada Tirto, Kamis lalu.

              Setiap perusahaan yang tidak membayar atau terlambat membayar THR keagamaan akan diberi
              sanksi  lima  persen  denda  dari  total  THR,  serta  sanksi  administratif  seperti  teguran  tertulis,
              pembatasan kegiatan usaha, penghentian sementara/sebagian atau seluruh alat produksi, dan
              pembekuan kegiatan usaha.


              Sanksi administratif sesuai Pasal 61 dan Pasal 62 Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021
              tentang Pengupahan serta Pasal 10 dan Pasal 11 Permenaker Nomor 6 Tahun 2016. Meskipun
              sudah dihukum, perusahaan tetap mesti menunaikan kewajiban membayar THR kepada para
              pekerja alias pengenaan sanksi administratif tidak menggugurkan kewajiban pengusaha atas
              denda keterlambatan membayar THR keagamaan.

              Dicky berharap setiap perselisihan industrial antara pekerja dan pengusaha diselesaikan dengan
              dialog yang mengedepankan asas keterbukaan. "Coba selesaikan dahulu, kami dorong bipartit,"
                                                           441
   437   438   439   440   441   442   443   444   445   446   447