Page 394 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 28 APRIL 2021
P. 394

PEKERJA OUTSOURCING DAN KONTRAK BISA DAPAT THR

              MATARAM  -  Perusahaan  diimbau  untuk  membayarkan  Tunjangan  Hari  Raya  (THR)  Idul  Fitri
              secara penuh. Pekerja yang menerima THR penuh tidak hanya pegawai tetap perusahaan, tetapi
              juga pekerja dengan status outsourcing atau alih daya, kontrak, berhak menerima THR lebaran.

              Perusahaan yang dalam kondisi sehat wajib membayarkan THR pekerja/buruh. Sementara itu,
              perusahaan tidak sehat akan ada solusi untuk keduanya.

              Ketentuan untuk perusahaan diwajibkan bayar THR Lebaran ini sesuai Surat Edaran (SE) Nomor
              M/6/HK.04/  IV/2021  tentang  Pelaksanaan  Pemberian  THR  Keagamaan  Tahun  2021  bagi
              Pekerja/Buruh di Perusahaan. Pada prinsipnya, aturan itu mewajibkan pengusaha memberi THR
              secara penuh kepada pekerja/buruhnya pada H-7 Lebaran

              "Implementasi SE tersebut tinggal kami melaksanakan dan itu sudah disampaikan keseluruhan
              kabupaten/kota.  Sudah  diumumkan  secara  luas  bahwa  perusahaan  wajib  memberikan  THR
              kepada pekerjanya H-7 Lebaran," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnaker-
              trans) Provinsi NTB, I Gede Putu Aryadi, Senin (26/4).

              Dikatakan  Gde,  kewajiban  perusahaan  untuk  membayarkan  THR  bagi  pekerja/buruh,  namun
              harus  melihat  kembali  kondisi  dari  perusahaan  tersebut.  Karena  ada  beberapa  kategori
              perusahaan. Sementara di NTB lebih banyak UMKM dan untuk perusahaan besar tidak banyak
              dan kondisi pengusaha juga tengah kritis.

              "Artinya  perlu  kita  lihat  kemudian  harus  mencari  solusi.  Jangan  sampai  ini  salah  persepsi.
              Memang kalau kondisinya tidak memungkinkan ada solusinya," jelas mantan Kadis Kominfotik
              NTB ini.

              Untuk  diketahui,  ada  tiga  jenis  pekerja/  buruh  berhak  memperoleh  THR  Lebaran.  Pertama,
              pekerja/buruh berdasarkan PKWT atau PKWTT yang memiliki masa kerja 1 bulan secara menerus
              atau lebih. Kedua, pekerja/buruh berdasarkan PKWTT yang mengalami PHK oleh pengusaha
              terhitung  sejak  H-30  hari  sebelum  hari  raya  keagamaan.  Ketiga,  pekerja/  buruh  yang
              dipindahkan ke  perusahaan  lain  dengan  masa  kerja  berlanjut,  apabila  dari  perusahaan  lama
              belum mendapatkan THR.

              "Untuk memantau itu kami sudah membentuk posko pemantauan THR dan penanganan terkait
              aduan," terangnya.

              Menurut Gde, pihaknya sudah membuka posko dan ada tim pemantau ini terdiri dari pengawas
              yang ditugaskan para pengawas ketenagakerjaan yang ada di Disnakertrans, sehingga kalau
              memang ada keluhan terkait dengan ini bisa disampaikan.

              "Sesuai dengan pendomannya, pemerintah hadir untuk membantu masyarakat untuk menjamin
              bahwa hak- hak pekerja itu bisa dipenuhi," imbuhnya.

              Ketentuan  besarnya  THR  berdasarkan  peraturan  THR  Lebaran  adalah  1  bulan  upah  untuk
              pekerja/buruh  yang  mempunyai  masa  kerja  12  bulan  secara  terus-menerus  atau  lebih.
              Sedangkan pekerja/buruh yang masa kerjanya 1 bulan secara terus-menerus sampai dengan
              kurang dari 12 bulan, berhak mendapat THR yang dihitung secara proporsional sesuai masa
              kerjanya.

              Sedangkan pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian, upah satu bulan
              dihitung melalui dua ketentuan. Yakni memiliki masa kerja 12 bulan atau lebih di mana rata-rata
              upah diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari ravadan masa kerja kurang dari 12 bulan
              rata-rata upah diterima tiap bulan selama masa kerja.


                                                           393
   389   390   391   392   393   394   395   396   397   398   399