Page 399 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 28 APRIL 2021
P. 399

PEKERJA KONTRAK BERHAK TERIMA THR

              Dirjen  Pembinaan  Hubungan  Industrial  dan  Jaminan  Sosial  Tenaga  Kerja  (PHI  dan  Jamsos)
              Kemnaker,  Indah  Anggoro  Putri  memastikan  pekerja  dengan  status  outsourcing  (alih  daya),
              kontrak ataupun pekerja tetap berhak menerima Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan.

              Pembayaran  THR  Keagamaan  tersebut  dipertegas  melalui  Surat  Edaran  (SE)  Nomor  M/6/
              HK.04/IV/2021 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan Tahun
              2021  bagi  Pekerja/Buruh  di  Perusahaan.  Pada  prinsipnya,  aturan  ini  mewajibkan  pengusaha
              untuk memberi THR Keagamaan secara penuh kepada pekerja/buruhnya pada H-7 Lebaran.

              "THR Keagamaan wajib diberikan dalam bentuk uang rupiah dan paling lambat 7 hari sebelum
              hari raya keagamaan," kata Dirjen Putri di kantor Kemnaker, Jakarta, kemarin.

              Putri menambahkan, ada tiga jenis pekerja/buruh yang berhak memperoleh THR Keagamaan.
              Pertama,  pekerja/buruh  berdasarkan  PKWT  (Perjanjian  Kerja  Waktu  Tertentu)  atau  PKWTT
              (Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu) yang memiliki masa kerja 1 bulan secara menerus

              atau lebih. Kedua, pekerja/buruh berdasarkan PKWTT yang mengalami PHK oleh pengusaha
              terhitung sejak H-30 hari sebelum hari raya keagamaan.

              Ketiga,  pekerja/  buruh  yang  dipindahkan  ke  perusahaan  lain  dengan  masa  kerja  berlanjut,
              apabila dari perusahaan lama belum mendapatkan THR.

              "THR wajib dibayar penuh dan tepat waktu. Dalam pembayaran THR t idak ada perbedaan status
              kerja. Para pekerja out sourcing maupun pekerja kontrak, asalkan telah bekerja selama 1 bulan
              atau lebih dan masih memiliki hubungan kerja pada saat hari keagamaan berlangsung, maka
              berhak mendapatkan THR juga," ujar Putri.

              Ketentuan besarnya THR berdasarkan peraturan THR Keagamaan adalah 1 bulan upah untuk
              pekerja/buruh  yang  mempunyai  masa  kerja  12  bulan  secara  terus  menerus  atau  lebih,
              sedangkan pekerja/buruh yang masa kerjanya 1 bulan secara terus menerus sampai dengan
              kurang dari 12 bulan, berhak mendapat THR yang dihitung secara proporsional sesuai masa
              kerjanya.

              Penghitungan upah sebulan yakni upah tanpa tunjangan yang merupakan upah bersih (clean
              wages) atau upah pokok termasuk tunjangan tetap. Dalam hal upah terdiri dari upah pokok dan
              tunjangan tidak tetap maka perhitungan THR dihitung berdasarkan upah pokok.
              "Dari  perhitungan  upah  tersebut,  tidak  menutup  kemungkinan  perusahaan  juga  dapat
              memberikan  THR yang nilainya  lebih  besar dari  peraturan perundang-undangan,  dimana  hal
              tersebut  terlebih  dahulu  ditetapkan  dalam  perjanjian  kerja,  peraturan  perusahaan  atau
              perjanjian  kerja  bersama  atau  kebiasaan  yang  selama  ini  memang  telah  dilakukan  oleh
              perusahaan," ucap Putri.

              Sedangkan, pekerja/buruh yang bekerja berdasarkan perjanjian kerja harian, upah satu bulan
              dihitung melalui dua ketentuan, yakni memiliki masa kerja 12 bulan atau lebih (rata-rata upah
              yang diterima dalam 12 bulan terakhir sebelum hari raya) dan masa kerja kurang dari 12 bulan
              (rata-rata upah yang diterima tiap bulan selama masa kerja).

              TMP







                                                           398
   394   395   396   397   398   399   400   401   402   403   404