Page 32 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 AGUSTUS 2021
P. 32
Ringkasan
Buruh ikut merasakan dampak dari pandemi virus corona (covid-19). Tidak hanya masalah
kesehatan, buruh juga harus menghadapi imbas ekonomi dari pandemi. Salah satu buruh, Zaenal
Rusli bercerita seorang rekannya yang terpapar virus corona harus menjalani isolasi mandiri di
rumah kontrakan tiga petak bersama istri dan anaknya.
JERIT BURUH SAAT PANDEMI: SULIT ISOLASI HINGGA DIANCAM
Buruh ikut merasakan dampak dari pandemi virus corona (covid-19). Tidak hanya masalah
kesehatan, buruh juga harus menghadapi imbas ekonomi dari pandemi.
Salah satu buruh, Zaenal Rusli bercerita seorang rekannya yang terpapar virus corona harus
menjalani isolasi mandiri di rumah kontrakan tiga petak bersama istri dan anaknya.
"Ada salah satu kawan yang kena covid, rumahnya tiga petak, kontrakan. Dia isolasi di kamar
utama, anak istri tinggal di ruang TV, sehingga akhirnya mau enggak mau, suka enggak suka,
anak dan istri ikut-ikutan kena (terpapar Covid)," kata Rusli dalam sebuah diskusi virtual, Minggu
(1/8).
Menurut Rusli, pihak perusahaan tidak memberi perhatian lebih terhadap buruh yang terpapar
covid. Perusahaan memang memberi keleluasaan untuk tidak bekerja bagi para buruh yang
terpapar covid-19. Namun, perusahaan biasanya tidak memberi bantuan obat-obatan,
multivitamin, maupun fasilitas isolasi bagi buruh.
Dengan keadaan seperti, buruh lainnya berinisiatif agar bisa meringankan beban buruh yang
terpapar Covid-19 itu dengan memberikan suplemen, vitamin, maupun alat oksimeter dengan
cara patungan.
Selain kurang perhatiannya perusahaan, menurut Rusli, buruh juga mendapat 'ancaman'. Ia
menceritakan, banyak petinggi perusahaan meminta buruh tidak banyak menuntut selama
pandemi berlangsung.
"'Harusnya kawan-kawan bersyukur, sampai saat ini masih bekerja, masih digaji', terus 'masih
banyak ribuan yang lainnya, yang menunggu kawan-kawan digantikan, makanya harus benar-
benar bekerja dengan maksimal,' itu menurut ku sangat kejam sih," ujarnya menirukan
percakapan tersebut.
Tidak hanya itu, menurutnya, sejumlah perusahaan juga tidak memberikan fasilitas vaksinasi
gratis terhadap keluarga buruh. Bahkan, beberapa perusahaan tidak menyediakan vaksin untuk
buruh.
"Bahkan di beberapa basis lain itu tidak mengadakan vaksin. Malah perusahaan meminta pekerja
mencari vaksin sendiri, hanya diberi libur saat pekerja itu mau vaksin," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Konfederasi Serikat Nasional dan Sentral Gerakan Buruh Nasional
(KSN-SGBN) Yohannes Joko Purwanto dalam keterangan tertulisnya menyampaikan bahwa
buruh mendapat ancaman jika mereka melapor ke Satgas Covid-19 di daerah apabila ada kasus
positif di pabrik tersebut.
Menurut dia, perusahaan mengancam hanya akan membayar upah Rp20.000 sehari selama
pabrik berhenti beroperasi akibat perusahaan ditutup karena temuan kasus covid-19.
"Para buruh dihadapkan pada pilihan: kelaparan atau tertular covid-19," imbuhnya.
31

