Page 33 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 AGUSTUS 2021
P. 33

Bahkan, kata Yohannes, tidak sedikit buruh yang baru diketahui sakit ketika sudah terlambat.
              Menurut dia, ada sejumlah situasi yang menghambat buruh melaporkan dirinya terpapar covid-
              19.

              Di  antaranya,  karena  keterbatasan  uang  untuk  mengikuti  tes  swab  antigen  maupun  PCR.
              Kemudian, ketidakpastian kerja ketika harus menjalani isolasi mandiri lantaran status kerjanya
              sebagai buruh kontrak, alih daya, dan hari lepas.

              Kemudian, menurut Yohannes, buruh yang terpapar covid-19 juga khawatir mendapat stigma
              dan hukuman dari lingkungan tempat tinggal.

              "Hambatan  lain  adalah  ancaman  penutupan  pabrik  akibat  penghentian  pesanan  dari  pihak
              pembeli  atau  pemegang  merek.  Perusahaan  tidak  melakukan  penghentian  produksi  di  saat
              banyak buruh mulai bergejala dan meski lebih dari 100 buruh mengambil izin sakit," tuturnya.

              Perusahaan Menutup-tutupi

              Yohannes melanjutkan, dari hasil pemantauan pihaknya, beberapa perusahaan juga berusaha
              menutup-nutupi  kasus  penularan  covid-19  di  tempat  kerja.  Misalnya,  pada  pabrik  yang
              melakukan tes usap massal, perusahaan tidak membagikan hasil tes tertulis kepada buruhnya.

              "Namun  sekadar  hasil  akhirnya  saja.  Padahal,  hasil  tertulis  yang  lengkap  dan  detail  itu
              dibutuhkan untuk perawatan sesuai dengan kondisi pasien," ujar dia.

              Bukan  hanya  itu,  perusahaan  juga  menggunakan  hasil  tes  covid-19  sebagai  sarana  untuk
              membungkam serikat buruh.

              Yohannes menceritakan, pada satu pabrik, buruh yang sebelumnya mengikuti suatu aksi protes
              lalu difasilitasi tes PCR oleh perusahaan, ia kemudian dinyatakan positif, tanpa diberikan hasilnya
              secara tertulis, dan tidak diperbolehkan bekerja.

              "Meski  hingga  saat  ini,  buruh  tersebut  tidak  mengalami  gejala  apapun  ataupun  orang
              terdekatnya tertular," tuturnya.

              Menurut dia, hal tersebut menyebabkan sukarnya mengetahui pasti jumlah buruh yang betul-
              betul  terjangkit  covid-19.  Hal  itu,  kata  Yohannes  juga  menyulitkan  serikat  buruh  dalam
              melindungi  anggotanya  dan  memastikan  terpenuhinya  hak  kesehatan,  mulai  dari  perawatan
              rumah sakit, layanan isoman, dan hak-hak dasarnya.

              "Bukan  hanya  itu,  perusahaan  juga  telah  menciptakan  resiko  penularan  lebih  lanjut  dengan
              terciptanya kluster keluarga," pungkasnya.






















                                                           32
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38