Page 38 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 AGUSTUS 2021
P. 38
Sayangnya, tanda-tanda membaiknya persentase pekerja anak ini diterpa gelombang pandemi
Covid-19 yang memorak-porandakan perekonomian. Sehingga diperkirakan banyak anak-anak
yang terpaksa membantu orangtua mencari tambahan penghasilan karena perekonomian
keluarga terdampak pandemi.
Hal ini tergambar dalam survei pekerja anak yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) tahun 2020 lalu di 9 provinsi, 20 kabupaten/kota.
Dari hasil wawancara dengan orangtua, ditemukan sebanyak 69,2 persen anak membantu
perekonomian orangtua dampak dari pandemi. Bahkan 50 persen orangtua menganggap selama
pandemi, anak selain di rumah sebaiknya juga membantu mencari tambahan penghasilan.
Di lingkup global, publikasi Organisasi Buruh Internasional (ILO) terbaru pada Juni 2021
melaporkan, ada 160 juta anak berusia 5 hingga 17 tahun yang menjadi pekerja. Sebanyak 55,8
persen merupakan pekerja anak berusia di bawah 11 tahun dan 22,3 persen berusia 12 hingga
14 tahun.
Artinya, ada 78,1 persen anak yang bekerja di luar ketentuan hukum. Konvensi ILO Nomor 139
menyebutkan, batas usia anak yang diperbolehkan bekerja minimal 15 tahun, itupun dengan
sejumlah syarat.
Beban Ganda
Di Indonesia Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menegaskan,
anak yang diperbolehkan bekerja minimal berusia 13 tahun dengan sejumlah syarat diantaranya
pekerjaan yang dikerjakan oleh anak merupakan pekerjaan ringan, tidak mengganggu
perkembangan fisik, mental, dan sosial anak.
Namun faktanya banyak anak di bawah usia 13 tahun yang sudah ikut mencari nafkah. Data BPS
mencatat, 1,87 persen pekerja anak berusia 10-12 tahun.
Sejatinya anak tidak boleh bekerja, anak tidak boleh bertanggungjawab atas kebutuhan dan
ekonomi keluarga. Apalagi jika anak-anak tersebut juga masih bersekolah. Mereka memikul
beban ganda, antara tanggung jawab pendidikan dan ekonomi.
Dari data Sakernas 2019 terpotret, enam dari sepuluh pekerja anak di Indonesia masih berstatus
pelajar. Sementara empat dari sepuluh pekerja anak lainnya sudah tidak bersekolah lagi alias
putus sekolah.
Jumlah pekerja anak yang berstatus pelajar lebih banyak tersebar di pedesaan (60,68 persen)
dibandingkan di perkotaan (56,06 persen). Anak perempuan tercatat lebih banyak menanggung
beban ganda ini dibandingkan anak laki-laki (67,12 : 53,47), dengan selisih 13,65 persen.
Sementara dari 1,4 juta anak yang mempunyai beban selain bersekolah juga bekerja tersebut,
proporsi terbesar berada di Provinsi Sumatera Utara (16,93 persen), berikutnya Jawa Timur
(10,69 persen), diikuti Jawa Barat (7,42 persen) di urutan ketiga. Sumatera Utara juga tercatat
memiliki persentase pekerja anak usia 10 – 17 tahun lebih tinggi (12,50 persen) dari rata-rata
nasional (6,35 persen).
Sumatera Utara memiliki perkebunan kelapa sawit dan karet di beberapa daerah yang menjadi
ladang bagi anak-anak bekerja membantu orangtua, disamping itu ada pekerjaan di sektor
perikanan.
Terkait pekerjaan di sektor perikanan, Sumatera Utara pernah mempunyai sejarah tentang
ribuan pekerja anak di bawah umur yang dipekerjakan di jermal sekitar 20 tahun lalu. Meski
37

