Page 39 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 AGUSTUS 2021
P. 39

telah  dilakukan  penarikan  besar-besaran  oleh  pemerintah  pada  tahun  2003,  namun  sampai
              tahun 2007 pekerjaan yang merenggut hak-hak anak itu masih ditemukan.
              Bekerja di jermal maupun di perkebunan termasuk pekerjaan terburuk bagi anak-anak menurut
              UU No 1 Tahun 2000 tentang pengesahan konvensi ILO Nomor 182 mengenai pelarangan dan
              tindakan segera penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak.

              Konvensi  Hak  Anak  pasal  32  juga  menyebutkan  bahwa  pekerja  anak  berhak  dilindungi  dari
              pekerjaan yang membahayakan kesehatan fisik, mental, spiritual, moral, perkembangan sosial,
              ataupun mengganggu pendidikan mereka.

              Ancaman Pendidikan

              Pekerjaan yang buruk dan memprihatinkan seringkali mengeksploitasi anak, sehingga anak tidak
              memiliki kesempatan untuk belajar dengan baik, bahkan tidak bisa mengenyam pendidikan lagi.
              Sebanyak 40 persen pekerja usia anak tercatat sudah tidak bersekolah lagi.

              Bekerja  dalam  status  sebagai  pelajar  juga  dapat  mengurangi  waktu  anak  bersosialisasi  dan
              belajar sehingga perkembangan anak menjadi kurang maksimal. Sakernas 2019 menemukan
              masih ada sekitar 20 persen pekerja anak yang waktu bekerjanya lebih dari 40 jam seminggu.
              Artinya, sekitar 470 ribu anak yang bekerja kurang lebih 5,7 jam per hari.

              Padahal salah satu syarat anak diperbolehkan bekerja menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun
              2003 adalah maksimal bekerja selama 3 jam setiap harinya serta tidak boleh mengganggu waktu
              belajar.  Namun  tidak  dapat  dimungkiri  pada  praktiknya  banyak  anak  yang  harus  bekerja
              melewati batas waktu yang ditentukan.

              Jika hal ini dibiarkan tentu saja akan mengganggu pendidikan dan capaian pembelajarannya.
              Bahkan bisa berdampak pada keputusan untuk tidak melanjutkan pendidikan.
              Penelitian Mahmud et al. (2020) menunjukkan, anak yang bekerja secara terus menerus dan
              masih bersekolah, cenderung malas bersekolah, dan memiliki tingkat kehadiran rendah, serta
              prestasi sekolah menurun dibandingkan saat anak sebelum bekerja.

              Pandemi Covid-19 semakin menambah kompleks masalah pekerja anak. Kerentanan ekonomi
              akibat pandemi menimbulkan efek domino pada anak-anak.

              Penutupan sekolah dan dilakukannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan Belajar dari Rumah
              (BDR), menjadi peluang untuk mempekerjakan anak agar menambah penghasilan keluarga.

              Bagi sebagian daerah yang memiliki keterbatasan akses teknologi sehingga terkendala proses
              pembelajaran  jarak  jauh,  membuat  anak-anak  mengikuti  orangtua  bekerja  entah  di  ladang,
              hutan, atau ikut melaut sehingga mengabaikan pendidikannya.

              Survei  KPAI  menemukan  ada  25  persen  dari  pekerja  anak  yang  tidak  mengikuti  PJJ  selama
              pandemi, sementara 75 persen lainnya masih tetap sekolah melalui PJJ.
              Hal  ini  menjadi  salah  satu  tantangan  dunia  pendidikan  di  masa  pandemi.  Alih-alih  masalah
              pekerja anak bisa dientaskan, pandemi semakin memperbesar peluang anak usia sekolah terjun
              ke dunia kerja bahkan dengan risiko pekerjaan yang membahayakan.

              Efeknya,  semakin  besar  kesulitan  seorang  anak  mengakses  pendidikan,  semakin  besar  pula
              lingkaran  hitam  kebodohan  dan  kemiskinan  yang  terjadi.  Menjadi  tantangan  besar  bagi
              pemerintah  mewujudkan  Program  Aksi  Menuju  Indonesia  bebas  Pekerja  Anak  Tahun  2022
              sebagai upaya untuk menurunkan jumlah anak yang bekerja. (LITBANG KOMPAS)


                                                           38
   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44