Page 54 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 AGUSTUS 2021
P. 54

Bahkan 50 persen orangtua menganggap selama pandemi, selain di rumah, anak sebaiknya juga
              membantu mencari tambahan penghasilan.
              Di  lingkup  global,  publikasi  Organisasi  Buruh  Internasional  (ILO)  terbaru  pada  Juni  2021
              melaporkan, ada 160 juta anak berusia 5 hingga 17 tahun yang menjadi pekerja. Sebanyak 55,8
              persen merupakan pekerja anak berusia di bawah 11 tahun dan 22,3 persen berusia 12-14 tahun.

              Artinya, ada 78,1 persen anak yang bekerja di luar ketentuan hukum. Konvensi ILO Nomor 139
              menyebutkan, batas usia anak yang diperbolehkan bekerja minimal 15 tahun, itu pun dengan
              sejumlah syarat.

              Beban ganda

              Undang-Undang  Nomor  13  Tahun  2003  tentang  Ketenagakerjaan  menegaskan,  anak  yang
              diperbolehkan bekerja minimal berusia 13 tahun dengan sejumlah syarat, antara lain pekerjaan
              yang dikerjakan anak merupakan pekerjaan ringan serta tidak mengganggu perkembangan fisik,
              mental, dan sosial anak. Namun, faktanya, banyak anak di bawah usia 13 tahun yang sudah ikut
              mencari nafkah. Data BPS menunjukkan, 1,87 persen pekerja anak berusia 10-12 tahun.

              Sejatinya anak tidak boleh bekerja. Anak tidak boleh bertanggung jawab atas kebutuhan dan
              ekonomi keluarga, apalagi jika anak-anak tersebut juga masih bersekolah.

              Dari data Sakemas 2019 terpotret, enam dari sepuluh pekerja anak di Indonesia masih berstatus
              pelajar. Sementara empat dari sepuluh pekerja anak lainnya sudah tidak bersekolah alias putus
              sekolah.

              Jumlah  pekerja  anak  yang  berstatus  pelajar  ini  lebih  banyak  tersebar  di  perdesaan  (60,68
              persen)  dibandingkan  di  perkotaan  (56,06  persen).  Anak  perempuan  tercatat  lebih  banyak
              menanggung beban ganda ini dibandingkan anak la-ki-laki (67,12 berbanding 53,47), dengan
              selisih 13,65 persen.

              Sementara dari 1,4 juta anak yang mempunyai beban selain bersekolah, juga bekerja tersebut,
              proporsi  terbesar  berada  di  Provinsi  Sumatera  Utara  (16,93  persen),  berikutnya  Jawa  Timur
              (10,69 persen), diikuti Jawa Barat (7,42 persen) di urutan ketiga. Sumatera Utara juga tercatat
              memiliki persentase pekerja anak usia 10-17 tahun lebih tinggi (12,50 persen) dari rata-rata
              nasional (6,35 persen).

              Sumatera  Utara  memiliki  perkebunan  kelapa  sawit  dan  tembakau  di  beberapa  daerah  yang
              menjadi ladang bagi anak-anak bekerja membantu orangtua, di samping ada pekerjaan di sektor
              perikanan.

              Terkait  pekerjaan  di  sektor  perikanan,  Sumatera  Utara  pernah  mempunyai  sejarah  tentang
              ribuan pekerja anak di bawah umur yang dipekerjakan di jermal sekitar 20 tahun lalu.
              Bekerja di jermal ataupun di perkebunan termasuk pekerjaan terburuk bagi anak-anak. Undang-
              Undang  Nomor  1  Tahun  2000  tentang  pengesahan  Konvensi  ILO  Nomor  182  mengenai
              pelarangan dan tindakan segera penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak
              melarang pekerjaan di jermal dan perkebunan semacam itu.

              Konvensi  Hak  Anak  Pasal  32  juga  menyebutkan  bahwa  pekerja  anak  berhak  dilindungi  dari
              pekerjaan yang membahayakan kesehatan fisik, mental, spiritual, moral, perkembangan sosial,
              ataupun mengganggu pendidikan mereka.
              Ancaman pendidikan




                                                           53
   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59