Page 55 - E-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 AGUSTUS 2021
P. 55

Pekerjaan yang buruk dan memprihatinkan sering mengeksploitasi anak sehingga anak tidak
              memiliki kesempatan untuk belajar dengan baik, bahkan tidak bisa mengenyam pendidikan lagi.
              Bekerja dalam status sebagai pelajar juga dapat mengurangi waktu anak untuk bersosialisasi
              dan  belajar  sehingga  perkembangan  anak  menjadi  kurang  maksimal.  Hasil  Saker-nas  2019
              menunjukkan masih ada sekitar 20 persen pekerja anak yang waktu bekerjanya lebih dari 40
              jam seminggu.

              Artinya, masih ada sekitar 470.000 anak yang bekerja kurang lebih 5,7 jam per hari.

              Padahal,  salah  satu  syarat  anak  diperbolehkan  bekerja  menurut  Undang-Undang  Nomor  13
              Tahun 2003 adalah maksimal bekerja selama tiga jam setiap hari serta tidak boleh mengganggu
              waktu belajar anak.

              Jika hal ini dibiarkan, tentu saja akan mengganggu pendidikan anak dan memengaruhi capaian
              pembelajarannya. Bahkan bisa berdampak pada keputusan untuk tidak melanjutkan pendidikan.

              Penelitian Mahmud et al (2020) menunjukkan, anak yang bekerja secara terus-menerus dan
              masih bersekolah cenderung malas bersekolah, dan memiliki tingkat kehadiran yang rendah,
              serta prestasi sekolah yang menurun dibandingkan saat anak sebelum bekerja.

              Pandemi Covid-19 semakin menambah kompleks masalah pekerja anak. Kerentanan ekonomi
              akibat  pandemi  menimbulkan  efek  domino  pada  anak-anak.  Penutupan  sekolah  dan
              dilakukannya pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan belajar dari rumah (BDR) menjadi peluang
              untuk mempekerjakan anak agar menambah penghasilan keluarga.

              Di sebagian daerah yang memiliki keterbatasan akses teknologi, sehingga pembelajaran jarak
              jauhnya ter-kendala, anak-anak mengikuti orangtuanya bekerja entah di ladang, hutan, atau ikut
              melaut  sehingga  mengabaikan  pendidikannya.  Survei  KPAI  menemukan  ada  25  persen  dari
              pekerja anak yang tidak mengikuti PJJ selama pandemi, sementara 75 persen lainnya masih
              tetap sekolah melalui PJJ.

              Pandemi memperbesar peluang anak usia sekolah terjun ke dunia kerja dengan risiko pekerjaan
              yang membahayakan. Efeknya, semakin besar kesulitan seorang anak mengakses pendidikan,
              semakin besar pula lingkaran hitam kebodohan dan kemiskinan yang terjadi.

              Menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam mewujudkan Program Aksi Menuju Indonesia
              Bebas Pekerja Anak Tahun 2022 sebagai upaya untuk menurunkan jumlah anak yang bekerja.


























                                                           54
   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60