Page 148 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 2 FEBRUARI 2021
P. 148

Usulan itu diterima pemerintah melalui Tim Serap Aspirasi dan juga Portal UU Cipta Kerja yang
              telah disediakan.
              Antusiasme  masyarakat,  pelaku  usaha  dan  pemangku  kepentingan  terlihat  dari  banyaknya
              aspirasi dan masukan yang diterima Kemenko Perekonomian, selaku koordinator penyusunan
              Peraturan Pelaksanaan UU Ciptaker.

              "Pemerintah sejak awal telah membuka dan menyediakan 4 kanal utama bagi masyarakat luas
              untuk memberikan masukan dan menyampaikan aspirasi, yaitu melalui Portal dan Posko UU
              Cipta  Kerja,  Tim  Serap  Aspirasi  (TSA),  Acara  Serap  Aspirasi,  serta  melalui  Surat  Resmi  ke
              Kemenko  Perekonomian  dan  Kementerian/Lembaga  terkait,"  kata  Airlangga  dalam
              keterangannya, dikutip Senin (1/2/2021).

              Hingga 25 Januari 2021 masukan m elalui Portal UU Cipta Kerja dan Posko Cipta Kerja sebanyak
              112 masukan melalui web-form, 48 melalui e-mail dan akses ke Portal (hits) sebanyak 4,88 juta
              pengakses.
              Sementara  itu  masukan  melalui  Acara  Serap  Aspirasi  yang  dilakukan  secara  tatap  muka
              (luring/offline) di 15 daerah seluruh Indonesia, dengan mencatat masukan sebanyak 38 berkas
              masukan; Aspirasi dan masukan melalui Tim Serap Aspirasi (TSA) yang menampung, membahas
              dan memberikan rekomendasi sebanyak 227 berkas masukan; Melalui Surat Resmi ke Kemenko
              Perekonomian maupun ke Kementerian dan Lembaga terkait, sebanyak 72 berkas masukan.

              Pemerintah juga telah melibatkan akademisi dan praktisi hukum, yang dikoordinasikan oleh Prof
              Romli Atmasasmita agar mendapatkan masukan yang cukup terkait Peraturan Pelaksanaan UU
              Ciptaker.

              "Semua aspirasi dan masukan tersebut telah ditindaklanjuti oleh Kementerian dan Lembaga (K/L)
              yang  bertanggung  jawab  di  sektor  teknis,  bersama  dengan  Tim  Teknis  di  Kemenko
              Perekonomian, serta dari Kemen Kumham, Setneg dan Setkab dalam proses harmonisasinya,"
              tegas Airlangga.

              Sebelumnya,  Presiden  Joko  Widodo  menandatangani  UU  Ciptaker  pada  Senin  (2/11/2020).
              Beleid tersebut tercatat sebagai Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja.

              Draf  UU  Cipta  Kerja  tersebut  telah  diunggah  di  situs  resmi  Kementerian  Sekretariat  Negara
              (Kemensetneg)      dan    bisa     diakses    oleh    publik    dengan     mengunduh       di
              https://jdih.setneg.go.id/Produk  Dengan  demikian  seluruh  ketentuan  dalam  UU  Cipta  Kerja
              setebal 1.187 halaman mulai berlaku sejak 2 November 2020. Walaupun UU Cipta Kerja telah
              berlaku dan diundangkan, perwakilan buruh menilai banyak hal yang menjadi sorotan dalam
              peraturan tersebut.

              "Setelah kami pelajari, isi undang-undang tersebut khususnya terkait klaster ketenagakerjaan
              hampir seluruhnya merugikan kaum buruh," kata Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia
              ( KSPI) Said Iqbal, Selasa (3/11/2020).

              Seperti misalnya potensi diberlakukannya kembali sistem upah murah dalam Pasal 88C Ayat (1)
              dan  (2).  Pada  ayat  1  disebutkan  gubernur  wajib  menetapkan  upah  minimum  provinsi.
              Selanjutnya di ayat 2 gubernur dapat menetapkan upah minimun kabupaten/kota dengan syarat
              tertentu.

              "Penggunaan  frasa  'dapat'  dalam  penetapan  upah  minimum  kabupaten/kota  (UMK)  sangat
              merugikan  buruh.  Karena  penetapan  UMK  bukan  kewajiban,  bisa  saja  gubernur  tidak
              menetapkan UMK. Hal ini akan mengakibatkan upah murah," ujar Iqbal.



                                                           147
   143   144   145   146   147   148   149   150   151