Page 522 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 522

birokrasi, ketidakstabilan kebijakan, serta regulasi perpajakan. "Tapi yang disasar  omnibus law
              kok isu ketenagakerjaan? Bagaimana ceritanya? Jadi, antara diagnosa dengan resepnya sejak
              awal sudah tak nyambung," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (7/10/2020). Menurutnya,
              pekerja/buruh yang saat ini dalam posisi sulit akibat dampak pandemi Covid-19 kian terpojok.



              FADLI ZON: UU CIPTA KERJA TAK TEPAT SASARAN DAN TAK TEPAT WAKTU

              Anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra  Fadli Zon  menilai,  UU Cipta Kerja  tidak tepat sasaran
              dalam menjawab persoalan hambatan investasi di dalam negeri.

              Mengutip data World Economic Forum (WEF), Fadli memaparkan kendala utama investasi di
              Indonesia  adalah  korupsi,  inefisiensi  birokrasi,  ketidakstabilan  kebijakan,  serta  regulasi
              perpajakan.
              "Tapi yang disasar  omnibus law  kok isu ketenagakerjaan? Bagaimana ceritanya? Jadi, antara
              diagnosa dengan resepnya sejak awal sudah tak nyambung," katanya dalam keterangan tertulis,
              Rabu (7/10/2020).

              Menurutnya, pekerja/buruh yang saat ini dalam posisi sulit akibat dampak pandemi Covid-19
              kian terpojok.

              Fadli berpendapat, kepentingan dan suara masyarakat dalam pembentukan UU Cipta Kerja justru
              terpinggirkan. Fadli mencatat sejumlah isu yang menjadi pokok penolakan pekerja/buruh.

              "Dalam catatan saya, ada beberapa isu yang memang mengusik rasa keadilan buruh. Misalnya,
              skema  pesangon  kepada  pekerja  yang  di-PHK  diubah  dari  sebelumnya  32  bulan  upah,  kini
              menjadi 25 bulan upah. Kemudian, penghapusan UMK (Upah Minimum Kabupaten) menjadi UMP
              (Upah Minimum Provinsi)," tuturnya.

              Kemudian,  hak-hak  pekerja  yang  sebelumnya  dijamin  dalam  UU  Ketenagakerjaan  Nomor
              13/2003, seperti hak istirahat panjang, uang penghargaan masa kerja, serta kesempatan untuk
              bekerja selama 5 hari dalam seminggu dihapus dalam UU Cipta Kerja.

              "Sehingga, secara umum, omnibus law ini memang tak memberi rasa keadilan, bukan hanya
              buat buruh, tapi juga buat masyarakat secara umum," kata Fadli.
              Selain itu, Fadli menilai proses pembentukan dan pengesahan UU Cipta Kerja tidak tepat waktu.

              Ia mengatakan membahas RUU sepenting ini yang berdampak pada banyak aspek kehidupan
              masyarakat di tengah pandemi sungguh merupakan preseden buruk bagi praktik legislasi.

              "Membahas  seluruh  materi  yang  telah  disebutkan  tadi  dalam  tempo  yang  singkat  memang
              mustahil dilakukan, apalagi di tengah berbagai keterbatasan dan pembatasan semasa pandemi
              ini.  Sehingga,  pembahasan  omnibus  law  ini  kurang  memperhatikan  suara  dan  partisipasi
              masyarakat," ujarnya.

              Ia pun khawatir pengesahan UU Cipta Kerja justru melahirkan ketidakstabilan di Tanah Air.

              Berbagai penolakan masyarakat hingga aksi mogok kerja telah menunjukkan bahwa UU Cipta
              Kerja hanya menimbulkan kegaduhan.

              "Kalau terus dipaksa untuk diterapkan, ujungnya sudah pasti hanya akan merusak hubungan
              industrial. Artinya, baik buruh maupun pengusaha pada akhirnya bisa sama-sama dirugikan. Ini
              soal waktu saja," kata Fadli.


                                                           521
   517   518   519   520   521   522   523   524   525   526   527