Page 525 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 525

TURC: UU CIPTA KERJA TAK SELESAIKAN MASALAH, HANYA MENAMBAH
              PERSOALAN
              Direktur  Eksekutif  Trade  Union  Rights  Centre  (TURC)  Andriko  Otang  menyatakan,  Undang-
              undang (UU) Cipta Kerja seharusnya dapat membuka diri terhadap perubahan dan perbaikan
              atas UU Nomor 13 Tahun 2020 tentang Ketenagakerjaan.

              "  UU Cipta Kerja  seharusnya membuka diri terhadap perubahan dan perbaikan ketentuan-
              ketentuan mengenai perlindungan hak tenaga kerja sebagaimana yang sebelumnya diatur di
              dalam UU Nomor 13 Tahun 2003," ujar Andriko dalam konferensi pers, Selasa (6/10/2020).

              "Bukan malah menempatkan aspek perlindungan tenaga kerja sebagai hal yang menghambat
              keinginan menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif," kata dia.

              Andriko mengatakan, perubahan dan perbaikan itu perlu dilakukan berdasarkan perspektif yang
              adil dengan mengakomodasi kepentingan para pihak hingga pada tataran kompromi yang dapat
              dicapai bersama, misalnya status kerja Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT).

              Kemudian,  kontrak  jangka  panjang  dan  hilangnya  hak  atas  pesangon  seiring  hilangnya  hak
              hukum untuk perubahan status hukum dari PKWT menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu
              (PKWTT).

              Hal itu diperparah dengan minimnya perlindungan skema jaminan sosial yang disediakan oleh
              pemerintah.
              "Minim dalam arti model  membership based  yang mana peserta adalah pekerja membayar
              iuran, maka jika pekerja di PHK status kepesertaan mereka otomatis hilang," kata dia.

              Dengan  demikian,  Andriko  memandang  pekerja  tidak  terlindungi  di  tengah  pasar kerja  yang
              semakin fleksibel.

              Karena itu, penting untuk menjaga kualitas hidup dan perlindungan bagi pekerja untuk mencapai
              upaya mufakat baru dalam konteks ketenagakerjaan guna mewujudkan kerja yang layak.

              "Sayangnya UU Cipta Kerja lahir tanpa proses yang partisipatif," kata Andriko.

              Ia mengatakan, seiring dengan kebutuhan untuk meningkatkan investasi, UU Cipta Kerja justru
              perlu  lebih  sensitif  memberikan  perlindungan  yang  lebih  tegas  dan  adil  terhadap  hak  dan
              kepentingan tenaga kerja.

              Hal  itu  termasuk  pemberlakuan  terhadap  tenaga  kerja  PKWT  tanpa  mengesampingkan
              kepentingan pengusaha dan investor untuk menjalankan usaha dan investasinya dengan sebaik-
              baiknya.

              Menurut dia, skema jaminan sosial dalam UU Cipta Kerja menuntut intervensi dan kontribusi
              negara yang lebih besar.

              Padahal, BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan selama ini sering berada dalam kondisi yang
              rapuh dan tidak memiliki sumber daya yang cukup.

              Untuk itu, skema jaminan sosial yang diatur UU Cipta Kerja justru akan menambah beban yang
              lebih besar bagi badan-badan penyelenggara jaminan sosial itu sendiri.

              "Artinya,  dalam  statusnya  sebagai  sebuah    omnibus  law    ,  UU  Cipta  Kerja  justru  bukannya
              menyelesaikan  masalah,  tetapi  berpotensi  menimbulkan  persoalan-persoalan  baru,"  kata
              Andriko.


                                                           524
   520   521   522   523   524   525   526   527   528   529   530