Page 528 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 528

negative  -  Frans  Kongie  (Ketua  Asosiasi  Pengusaha  Indonesia  (APINDO)  Jateng)  Selama  ini
              aturannya terlalu banyak . Mulai dari pusat, daerah. Saling tumpang tindih. Harus memberikan
              laporan ini itu. Ini sangat tidak efisien untuk dunia usaha

              negative - Frans Kongie (Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Jateng) Bisa berupa
              sanksi ringan yaitu Surat peringatan satu sampai tiga. Bisa juga Pemutusan Hubungan Kerja. Itu
              paling terberat,



              Ringkasan

              Serikat buruh di Jawa Tengah menegaskan menolak atas disahkannya omnibus law undang-
              undang (UU) Cipta Kerja. Terkait hal itu, serikat buruh di Jawa Tengah akan melakukan aksi
              mogok yang  rencananya  aksi  akan diikuti  ribuan  buruh  yang terpusat di  kawasan  Tugurejo,
              Semarang.    Sekjen  Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (KSPI)  Jawa  Tengah,  Aulia  Hakim
              mengatakan aksi mogok produksi ini akan dilakukan selama dua hari pada 7 dan 8 Oktober 2020.



              TERANCAM DI-PHK, RIBUAN BURUH DI JAWA TENGAH TETAP MOGOK KERJA

              Serikat buruh di Jawa Tengah menegaskan menolak atas disahkannya omnibus law undang-
              undang (UU) Cipta Kerja. Terkait hal itu, serikat buruh di Jawa Tengah akan melakukan aksi
              mogok yang  rencananya  aksi  akan  diikuti  ribuan  buruh  yang terpusat di  kawasan  Tugurejo,
              Semarang.

              Sekjen Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Jawa Tengah, Aulia Hakim mengatakan aksi
              mogok produksi ini akan dilakukan selama dua hari pada 7 dan 8 Oktober 2020."Kita akan mulai
              orasi start jam 7 pagi di dalam perusahaan. Karena kalau turun ke jalan menurut kita tidak efektif
              untuk menyuarakan (tuntutan). Itu masa-masa kemarin. Semoga bisa menghentikan (ekonomi)
              kalau  kekuatan  satu  atau  dua  jam  saja  sudah  bagus.  Mengingat  pengamanan  yang  ketat,"
              ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (6/10/2020).

              Dia mengaku selama merencanakan aksi mogok tersebut para buruh mendapatkan ancaman
              dari berbagai pihak agar massa aksi dihentikan. "Penekanan pengusaha masih kuat. Kalau kami
              menggelar aksi akan dirapid dan menjalani karantina. Juga tidak akan dibayar upahnya. Ini yang
              membuat buruh tertekan," ungkapnya.Aulia menyebut terdapat tujuh poin paling fundamental
              dalam UU Cipta Kerja yang dinilai mendegradasi kesejahteraan kaum buruh. Di antaranya UMK
              bersyarat  dan  dihapuskannya  Upah  Minimum  Sektoral  Kabupaten/Kota  (UMSK).  Selain  itu,
              persoalan pengurangan nilai pesangon dari 32 bulan upah menjadi 25 bulan. Di mana 19 bulan
              dibayar pengusaha dan 6 bulan dibayar BPJS Ketenagakerjaan.

              Kemudian,  persoalan  PKWT  atau  kontrak  seumur  hidup  tidak  ada  batas  waktu  kontrak.
              Selanjutnya,  outsourcing  pekerja  seumur  hidup  tanpa  batas  jenis  pekerjaan.  Lalu  ada  juga
              persoalan hak cuti hilang dan hak upah atas cuti hilang."Cuti haid dan melahirkan bagi buruh
              perempuan hilang, karena hak upahnya atas cuti tersebut hilang. Cuti panjang dan hak cuti
              panjang juga hilang," jelasnya.

              Pihaknya telah melakukan upaya perundingan terkait UU Cipta Kerja dengan Asosiasi Pengusaha
              Indonesia (Apindo) Jateng tapi justru berdampak pada ancaman PHK.

              "Kami sudah berunding dengan Apindo. Ancaman itu tak berdasar. Kami dianggap mogok tidak
              sah. Kami berunding kok mau nggak perusahaan menolak omnibus law? Jawabnya tidak. Itu
              deadlock.  Ini  tidak  sesuai  regulasi  undang-undang  nomor  13  tentang  aturan  mogok  kerja.
              Gagalnya  sebuah  perundingan,"  ucapnya.Kendati  demikian,  pihaknya  menyiapkan  upaya

                                                           527
   523   524   525   526   527   528   529   530   531   532   533