Page 518 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 518

Terpisah, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah menilai aksi turun ke jalan serikat
              buruh/pekerja tidak relevan. Sebab, semua aspirasi yang mereka sampaikan telah diakomodasi
              secara maksimal dalam UU Cipta Kerja. Dia berharap para pekerja/buruh mau meluangkan waktu
              untuk membuka kembali dan mencermati UU tersebut. ''Banyak berita beredar di teman-teman
              pekerja atau buruh yang jauh dari kenyataan. Apa yang jadi tuntutan teman-teman pekerja atau
              buruh sudah diakomodasi,'' ujarnya.

              Dia menegaskan, penyusunan UU Cipta Kerja telah melibatkan partisipasi publik. Mulai unsur
              pekerja/buruh  yang  diwakili  serikat pekerja/serikat buruh, pengusaha, kementerian/lembaga,
              praktisi, akademisi, hingga lembaga lain seperti International Labour Organization (ILO). Karena
              itu, bisa diartikan rumusan klaster ketenagakerjaan dalam RUU Cipta Kerja merupakan intisari
              dari hasil kajian pakar/ahli, focus group discussion (FGD), serta rembuk tripartit (pemerintah,
              pekerja/buruh, dan pengusaha) yang sejak lama dilakukan.

              Bahkan, kata dia, saat RUU Cipta Kerja masuk tahap pembahasan di DPR, pemerintah mendalami
              kembali  rumusan  klaster  ketenagakerjaan  yang  melibatkan  pengusaha  (Apindo)  dengan
              perwakilan  konfederasi serikat  pekerja/serikat buruh.  Hal  itu  sesuai  dengan  arahan  presiden
              pada 24 April 2020. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menerima banyak masukan dari
              serikat pekerja/serikat buruh. ''Dengan proses yang telah dijalankan ini, pemerintah telah dengan
              saksama menyerap berbagai aspirasi, khususnya dari unsur pekerja/buruh,'' ungkapnya.

              Ida mengakui ada perbedaan pandangan. Menurut dia, itu hal yang wajar dalam dinamika sosial
              dan demokrasi. Namun, pada akhirnya pemerintah harus memutuskan dan menyiapkan draf
              yang  dibahas  bersama  DPR.  Lagi  pula,  lanjut  dia,  pembahasan  antara  pemerintah  dan  DPR
              berjalan secara transparan. Bahkan, pembahasan dilakukan secara terbuka dan disiarkan melalui
              kanal-kanal media sosial. ''Hal ini dimaksudkan agar publik dapat mengawal pembahasan RUU
              Cipta Kerja secara saksama,'' katanya.

              Selanjutnya, mengenai sejumlah tuntutan pekerja/buruh soal PKWT seumur hidup, outsourcing,
              jam  kerja  eksploitatif,  hingga  hak  cuti,  Menaker  memastikan  bahwa  penyusunan  ketentuan
              klaster ketenagakerjaan memperhatikan hasil putusan Mahkamah Konstitusi atas uji materi UU
              13/2003.  Kemudian,  ketentuan  mengenai  sanksi  ketenagakerjaan  dikembalikan  kepada  UU
              13/2003.

              Soal  PKWT,  dia  mengatakan  bahwa  RUU  Cipta  Kerja  tetap  mengatur  syarat-syarat  dan
              perlindungan hak bagi pekerja/buruh PKWT. Hal itulah yang menjadi dasar dalam penyusunan
              perjanjian kerja. ''Di samping itu, RUU Cipta Kerja mengatur perlindungan tambahan berupa
              kompensasi kepada pekerja/buruh pada saat berakhirnya PKWT,'' tegasnya.

              Editor : Ilham Safutra  Reporter : lum/mia/c19/oni   .























                                                           517
   513   514   515   516   517   518   519   520   521   522   523