Page 515 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 515

Ketua DPR Puan Maharani menyebut  omnibus law  Cipta Kerja terdiri atas 79 UU, 15 bab dan
              174 pasal. Pembahasan RUU ini akan melibatkan tujuh komisi di DPR.
              "Dan nantinya akan dijalankan melalui mekanisme yang ada di DPR. Apakah itu melalui Baleg
              atau Pansus karena melibatkan tujuh komisi terkait untuk membahas 11 kluster yang terdiri dari
              15 bab dan 174 pasal," kata Puan.

              Surpres itu akhirnya baru dibacakan di rapat paripurna DPR pada 2 April 2020. Pada saat itu
              disepakati bahwa pembahasan  omnibus law  RUU Cipta Kerja akan diserahkan kepada Badan
              Legislasi DPR.

              Belakangan, Jokowi sempat meminta agar pembahasan klaster ketenagakerjaan di dalam RUU
              tersebut ditunda.

              Permintaan itu muncul di tengah rencana ribuan buruh menggelar unjuk rasa menolak sejumlah
              pasal kontroversial di dalam klaster tersebut di sejumlah wilayah pada 30 April 2020.

              Presiden mengungkapkan, penundaan juga dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada
              sejumlah  pihak  untuk  mendalami  lagi  substansi  dari  pasal-pasal  terkait  serta  mendapatkan
              masukan dari pemangku kepentingan.

              "Kemarin pemerintah telah menyampaikan kepada DPR dan saya juga mendengar Ketua DPR
              sudah  menyampaikan  kepada  masyarakat  bahwa  klaster  Ketenagakerjaan  dalam  RUU  Cipta
              Kerja ini pembahasannya ditunda, sesuai dengan keinginan pemerintah," ujar Jokowi di Istana
              Merdeka, Jakarta, pada 24 April 2020.

              Pada 18 Agustus, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyatakan bahwa DPR membentuk
              tim perumus yang terdiri atas Panitia Kerja RUU Cipta Kerja Baleg DPR dan serikat buruh untuk
              membahas kelanjutan klaster ketenagakerjaan.
              Namun, waktu singkat yang diberikan kepada tim perumus, yaitu pada 20-21 Agustus, untuk
              membahasnya diprotes oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal.

              Meski  demikian,  Presiden  meyakini  bahwa  keberadaan  RUU  tersebut  diperlukan  untuk
              membangun budaya kerja baru yang efisien, transparan dan bebas korupsi.

              "Sebuah tradisi sedang kita mulai yaitu dengan menerbitkan omnibus law," ujar Jokowi saat
              membuka Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (ANPK) secara virtual di Istana Kepresidenan
              Bogor, Jawa Barat, pada 26 Agustus lalu.

              "Satu  undang-undang  yang  menyinkronisasikan  puluhan  undang-undang  secara  serempak,
              sehingga  antar  undang-undang  bisa  selaras  memberikan  kepastian  hukum  serta  mendorong
              kecepatan kerja, dan inovasi, dan akuntabel, serta bebas korupsi," lanjut dia.

              Akhirnya,  pembahasan  klaster  ketenagakerjaan  pun  dilanjutkan.  Tim  perumus,  sebut  Wakil
              Ketua Baleg DPR Achmad Baidowi, hanya butuh waktu dua hari, yaitu 25-27 September 2020,
              untuk menyelesaikan pembahasan klaster ketenagakerjaan.

              Pada Sabtu (3/10/2020) sore, secara tiba-tiba beredar pesan singkat di grup awak media yang
              berisi rencana pengambilan keputusan tingkat satu antara Baleg DPR dan pemerintah atas RUU
              Cipta Kerja pada Sabtu malam.
              Jadwal  yang  tidak  biasa  untuk  pengambilan  sebuah  keputusan  mengingat  selama  ini
              pembahasan RUU kerap memakan waktu lama bahkan hingga bertahun-tahun.

              Akhirnya, pemerintah sepakat untuk membawa pembahasan RUU itu ke rapat paripurna DPR
              untuk disahkan.
                                                           514
   510   511   512   513   514   515   516   517   518   519   520