Page 613 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 OKTOBER 2020
P. 613

UU CIPTA KERJA DINILAI CACAT HUKUM, KRPI: PEMERINTAH HANYA LIBATKAN
              PENGUSAHA
              -  Sekertaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (DPP  KRPI),
              Saepul Tavip menilai bahwa Undang-Undang Cipta Kerja cacat hukum, baik secara formil dan
              materil.

              Bahkan  dari  awal  pembuatan  Rancangan  Undang-Undang  (RUU)  Cipta  Kerja,  Saepul
              menganggap, pemerintah tidak terbuka untuk melibatkan masyarakat.

              "Dari sisi formil, sejak diumumkan Presiden tentang rencana pembuatan  UU Cipta Kerja  dengan
              metode Omnibus Law, pemerintah tidak terbuka untuk melibatkan masyarakat dalam proses
              pembuatan RUU Cipta Kerja tersebut," ujarnya dalam keterangan pers pada Selasa malam, 6
              Oktober 2020.

              Hal tersebut justru bertentangan dengan Pasal 96 UU Nomor 12 tahun 2011 bahwa dalam proses
              pembuatan suatu UU wajib melibatkan masyarakat. Selain itu, Saepul pun menilai bahwa dalam
              pembuatan draft RUU Cipta Kerja, pemerintah hanya melibatkan kalangan pengusaha.

              "Pemerintah hanya melibatkan kalangan pengusaha untuk membuat draft RUU Cipta Kerja ini,
              hingga diserahkan ke " tutur dia.

              Sebagaimana diberitakan  pikiranrakyat-bandungraya.com  dalam artikel,  "  Omnibus Law UU
              Ciptaker Dinilai Cacat Hukum, KRPI Ajukan Judicial Review  "  , selain itu, sejumlah pasal yang
              telah  disepakati  di  tingkat  Panja  ternyata  berbeda  dengan  isi  pasal    UU  Cipta  Kerja    yang
              disahkan.

              Salah satunya, Pasal 59 tentang Perjanjian Waktu Kerja Tertentu (PKWT) dan Pasal 66 tentang
              alih daya (outsourcing).
              Dalam  pembahasan  RUU  Cipta  Kerja  di  tingkat  Panja,  telah  disepakati  untuk  kembali  ke  UU
              13/2003. Akan tetapi, dalam  UU Cipta Kerja  yang telah disahkan, ternyata berbeda dengan isi
              kesepakatan Panja.

              "Sehingga  terindikasi  ada  pihak  yang  sengaja  membelokkan  poin-poin  kesepakatan  Panja,"
              katanya.

              Dihapusnya  syarat  PKWT  maksimal  tiga  tahun  dan  sekali  perpanjangan  PKWT,  serta
              dibebaskannya  outsourcing  akan  menyebabkan  semakin  banyak  pekerja  yang  diperlakukan
              dengan sistem PKWT dan outsourcing.

              Padahal telah menjadi rahasia umum bahwa pekerja PKWT dan outsourcing adalah pekerja yang
              rentan  dilanggar  hak-hak  normatifnya.  Pelanggaran  hak  normatif  ini  meliputi  upah  umum
              (termasuk upah lembur), dan jaminan sosial.

              Oleh karena itu,  KRPI  akan menempuh jalur perlawanan dengan mengajukan Judicial Review
              ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menolak seluruh isi klaster Ketenagakerjaan di  UU Cipta
              Kerja  .

              "    KRPI    pun  berharap  seluruh  komponen  gerakan  Serikat  Pekerja  di  Indonesia  untuk  bahu
              membahu, kompak menolak  UU Cipta Kerja  yang sangat merugikan rakyat pekerja ini dengan
              tetap  menjaga  keselamatan  pekerja  dari  bahaya  Covid-19,"  kata  Saepul.***(Elfrida  Chania
              S/Pikiranrakyat-bandungraya.com).




                                                           612
   608   609   610   611   612   613   614   615   616   617   618