Page 582 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 582
Ketua FSPMI Sumut, Willy Agus Utomo menyampaikan, aksi hari ini dipusatkan di depan pabrik
perusahaan yang ada di beberapa kabupaten kota, yakni Medan, Deliserdang, Serdang Bedagai,
dan Labuhanbatu.
"Hanya 2 organisasi buruh, yakni FSPMI dan SPN yang aksi, yang lain sepertinya tidak bergerak
bersama. Jadi hanya anggota kita yang ada di sekitar 40 perusahaan tadi yang bergerak," kata
Willy.
Willy menyebut, Omnibus Law Cipta Kerja terkesan dipaksakan. Hal ini dirasakan pihaknya saat
melakukan aksi dilakukan penekanan dari berbagai pihak yang merasa kepentingannya
terganggu, sehingga ada indikasi bagaimana aksi buruh di Sumut dapat digagalkan.
"Tapi kami tetap pada pendirian, dengan tetap melakukan penolakan Omnibus Law. Karena kami
anggap itu merampas hak buruh secara terang-terangan," ucapnya.
Willy menjelaskan, Omnibus Lawa Cipta Kerja merupakan Undang-Undang yang sangat tidak
memanusiakan kaum buruh, bahkan merupakan Undang-Undang terburuk yang ada di dunia.
"Setelah zaman Belanda, hak normatif buruh terus ditingkatkan, justru di era saat ini hak buruh
dikebiri terang-terangan," ujarnya.
FSPMI menyatakan akan tetap terus berjuang menolak Omnibus Lawa dan akan terus melakukan
upaya hukum dengan menggugat Undang-Undang tersebut ke Mahkamah Konstitusi (MK)
melalui Judicial Review dan aksi buruh.
(RZD).
581

