Page 584 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 584

SERUAN ARIEF POYUONO TERKAIT PENOLAKAN UU CIPTAKER DAN HASTAG MOSI
              TIDAK PERCAYA
              ,  JAKARTA  - Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Bersatu
              Arief  Poyuono  mengatakan  Omnibus  Law  Undang-Undang  Cipta  Kerja  (UU  Ciptaker)  bukan
              bentuk pengkhianatan pemerintah dan DPR pada masyarakat.

              Ia menegaskan, Omnibus Law merupakan produk UU yang lahir melalui proses konstitusional
              yang tujuannya baik bagi masyarakat dan negara.

              "Omnibus Law Ciptaker bukan bentuk penghianatan negara pada rakyat. Sebab, pemerintah dan
              DPR  RI  punya  kewajiban  untuk  memastikan  kehidupan  masyarakat  agar  bisa  jauh  lebih
              sejahtera. Serta ada perintah dari UUD 1945 agar negara bisa menyediakan lapangan kerja dan
              memberikan penghidupan yang layak bagi rakyat," kata Arief dalam keterangan resminya, Selasa
              (6/10).

              Ia menambahkan pastinya saat proses legalisasi Omnibus law RUU Ciptaker telah melalui jalan
              konstitusi dan sudah diberikan waktu yang cukup panjang bagi kelompok untuk bisa memberikan
              masukan.

              "Apa pun Omnibus Law UU Ciptaker yang disahkan oleh DPR RI merupakan produk undang-
              undang yang mempunyai tujuan yang baik bagi negara dan masyarakat," ungkap Arief.

              Dia memastikan Omnibus Law UU Ciptaker sudah melewati uji akademis. Karena itu, Arief yakin
              RUU tersebut tidak ada yang bersingungan ataupun berseberangan dengan UUD 1945.

              Arief pun tidak masalah ihwal munculnya kritikan, termasuk di media sosial dengan hadirnya
              #MosiTidakPercaya,  sebagai  bentuk  ketidakpercayaan  kepada  pemerintah  dan  DPR
              pascapengesahan UU Ciptaker.
              Menurut Arief, hal itu wajar saja dan merupakan bagian dari demokrasi.

              "Tentu  saja  ada  pandangan-pandangan  ketidakpuasan  dari  kelompok-kelompok  masyarakat,
              yang terkadang juga tidak murni pandangan itu dari mayoritas masyarakat," kata Arief.

              Ia mengatakan bagi kelompok yang tidak puas dengan Omnibus Law UU Ciptaker ada jalan
              konstitusional melalui Mahkamah Konstitusi untuk membatalkan isi aturan yang baru disahkan
              dalam Rapat Paripurna DPR, Senin (5/10) itu.

              "Kalau memang ada hak konstitusi masyarakat yang dilanggar," tegasnya.

              Arief mengimbau semua harus menghormati lahirnya Omnibus Law UU Ciptaker.

              Menurur dia, banya juga kok UU yang saat penyusunannya ditolak karena dianggap tidak sesuai
              dengan kepentingan negara saat pemerintahan sebelum Presiden Jokowi, tetapi toh akhirnya
              diterima. "Jika ada yang melanggar konstitusi dilakukan judicial review di MK," ungkapnya.

              (boy/jpnn)  Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:.













                                                           583
   579   580   581   582   583   584   585   586   587   588   589