Page 596 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 596

Aliansi  ini  telah  menyatakan  sikap  ketidakpercayaan  terhadap  Pemerintah  dan  DPRD.  Kedua
              pihak  ini  dianggap  telah  mengabaikan  suara  dan  aspirasi  rakyat.  Penerapan  RUU  ini  juga
              disinyalir dapat mengancamn keberlangsungan hidup setiap masyarakat.

              "Seharusnya  Pemerintah  dan  DPR  merupakan  perwakilan  dari  masyarakat.  Namun  faktanya,
              mereka mengabaikan suara rakyat, membuktikan secara terbuka bahwa saat ini Pemerintah dan
              DPRD tidak kebih dari sosok penghianat yang menjual negeri ini pada korporat demi keuntungan
              pribadi," kata  Muhammad  Farhan  Aziz,  Presiden  Eksekutif  Mahasiswa,  Universitas  Brawijaya,
              Selasa (6/10).

              Melalui  konferensi  pers  'Brawijaya  Menggugat'  ini  menjelaskan  bahwa  sejak  awal  proses
              persiapannya, Omnibus Law Cipta Kerja ini sudah sangat bermasalah.

              Misalnya saja dalam tahap penyusunan, sudah minim akan kontribusi masyarakat. Terutama
              pekerja  yang  kerap  dimarjinalkan  seperti  nelayan,  petani  dan  kaum  buruh.  "Sehingga
              penyusunannya  saja  sudah  mendegradasi  hak  atas  partisipasi  publik,"  tandas  dia    Menurut
              Farhan, RUU ini dikhawatirkan dpat berpotensi membangkitkan kembali pola kehidupan New
              Orde Baru melalui kebijakan yang dipusatkan pada wewenang pemerintah pusat.

              "Pasal-pasal Omnibus Law juga memberikan akses kemudahan bagi korporasi untuk merampas
              hak-hak pekerja hingga tanah dan sumber daya alam di sekitarnya," jelasnya  Lebih jauh, UU ini
              dinilai akan memberikan ruang besar bagi kerusakan lingkungan alam dengan dihapuskannya
              ketentuan Amdal dan semakin mendiskriminasikan kaum pekerja, perempuan hingga minoritas.

              Melalui  sistematika  PHK  masal,  perbudakan  modern  hingga  tindak  eksploitasi  tanpa  adanya
              sanksi yang harusnya diberikan kepada korporat saat melakukan hal tersebut.

              "Karenanya, kami menyatakan mosi tidak percaya kepada Pemerintah dan DPR. Pada intinya,
              kami  ingin  RUU  Cipta  Kerja  ini  dibatalkan,"  tegasnya    Nantinya,  untuk  menanggapi  serius
              moment  ini,  Aliansi  akan  mengadakan  aksi  lanjutkan  yang  rencananya  akan  digelar  pada  8
              Oktober mendatang. Selain itu juga akan fokus mengedukasi masyarakat terkait UU serta kinerja
              pemerintah melalui DPR.

              "Kita pastikan tanggal 8 nanti akan turun ke jalan dan itu menjadi awal bagi kita, kemudian kita
              akan  mengedukasi  masyarakat  umum  tentang  UU  ini  agar  mereka  paham  dan  pentinganya
              menjegal Omnibus Law," tutup Farhan  reporter : feni  RUU Cipta Kerja  UU Cipta Kerja  Hak
              Cipta2020 (c) PT Dynamo Media Network  Version 1.1.292.




























                                                           595
   591   592   593   594   595   596   597   598   599   600   601