Page 600 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 600

PENJELASAN LENGKAP DPR SOAL UU CIPTA KERJA, MULAI ATURAN CUTI HINGGA
              PESANGON
              Jakarta -  DPR RI mendapat banyak kecaman dan protes pasca meresmikan Rancangan Undang-
              Undang (RUU) Omnibus Law  Cipta Kerja  menjadi Undang-Undang (UU) pada Senin, 5 Oktober
              2020 kemarin.

              Sejumlah  serikat  pekerja/buruh  kompak  menolak  terbitnya  UU  Cipta  Kerja  dengan  berbagai
              alasan. Mulai dari penghapusan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), penghapusan hak cuti
              dan  hak  upah  atas  cuti,  hingga  jadi  pintu  masuk  bagi  Tenaga  Kerja  Asing  (TKA)  untuk
              berbondong-bondong datang ke Indonesia.

              Menanggapi deretan penolakan tersebut, DPR coba memberikan rangkuman jawaban kepada
              Liputan6.com    ,  Selasa  (6/10/2020).  Dewan  Perwakilan  Rakyat  coba  menjawab  tiap  butir
              keberatan pekerja atas pengesahan UU  Cipta Kerja  .

              Pertama, soal UMK dan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) yang bakal dihapuskan.
              Menurut penjelasan DPR, upah minimum ditetapkan dengan memperhatikan kelayakan hidup
              pekerja/buruh  dengan  mempertimbangkan  aspek  pertumbuhan  ekonomi  daerah  atau  inflasi
              daerah.

              "Upah  Minimum  Provinsi  (UMP)  WAJIB  ditetapkan  oleh  Gubernur.  Upah  Minimum
              Kabupaten/Kota (UMK) TETAP ADA," tulis DPR.

              Sementara untuk UMSK, setelah UU Cipta Kerja disahkan, upah minimum sektoral tetap berlaku
              bagi daerah yang telah menetapkannya. Sehingga untuk pekerja yang telah menerima UMSK
              yang lebih tinggi dari UMK tidak boleh diturunkan.

              Kedua,  terkait  pengurangan  pesangon  dari  32  kali  menjadi  25  kali.  DPR  menyebutkan,
              pemerintah tetap memastikan bahwa pesangon betul-betul menjadi hak dan dapat diterima oleh
              pekerja/buruh.

              Dalam hal ini, UU  Cipta Kerja  melahirkan skema Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) yang tidak
              mengurangi  manfaat  dari  berbagai  jaminan  sosial  lainnya,  seperti  Jaminan  Kecelakaan  Kerja
              (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Pensiun.

              "JKP tidak menambah beban bagi pekerja/butuh. Program KKP selain memberikan manfaat cash
              benefit juga memberikan manfaat lainnya yaitu peningkatan skill dan keahlian melalui pelatihan
              serta akses informasi ketenagakerjaan," papar DPR.

              Selain itu, DPR juga menggarisbawahi persyaratan untuk Pemutusan Hubungan Kerja (PHK),
              yang tetap mengikuti ketentuan dalam Undang-Undang (UU) Ketenagakerjaan.

              Butir  keberatan  lainnya  yakni  terkait  Perjanjian  Kerja  Waktu  Tertentu  (PKWT)  atau  kontrak
              seumur hidup (tidak ada batas waktu kontrak). DPR menyatakan, ketentuan ini hanya untuk
              pekerjaan yang memenuhi syarat-syarat tertentu (tidak tetap).

              PKWT  tetap  memberikan  perlindungan  kepada  pekerja  hingga  kontrak  selesai,  dan  mereka
              berhak mendapatkan uang kompensasi sesuai masa kerja ketika PKWT berakhir.

              "Syarat PKWT tetap mengacu pada UU 13/2003 tentang Ketenagakerjaan dengan penyesuaian
              terhadap perkembangan kebutuhan dunia kerja," tulis DPR.

              Berikutnya, DPR memberi jawaban soal penolakan atas sistem outsourcing pekerja seumur hidup
              tanpa batas jenis pekerjaan. DPR menyatakan, UU Cipta Kerja tetap mengatur hubungan kerja
              dalam alih daya, namun lingkup pekerjaan yang dapat dialihdayakan tidak dibatasi.


                                                           599
   595   596   597   598   599   600   601   602   603   604   605