Page 661 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 661

Pada Senin (5/10), DPR mengesahkan rancangan undang-undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker) di
              tengah  gelombang  penolakan  publik.  Koalisi  pendukung  Presiden  Joko  Widodo  di  parlemen
              kembali menundukkan oposisi tanpa perlawanan berarti.

              Hanya Fraksi PKS dan Fraksi partai Demokrat yang menyatakan menolak RUU itu. Memang, sejak
              Jokowi mengusulkan RUU itu kedua fraksi paling berisik menyatakan penolakan.

              Meski begitu, dua partai itu sempat menarik diri dari Panitia Kerja (Panja) RUU Cipta Kerja.
              Alasannya  ialah  sedang pandemi  Covid-19,  ingin  fokus  membantu  rakyat.  Namun,  keduanya
              kembali masuk ke Panja; PKS pada bulan Mei, Demokrat pada Agustus.

              Di  saat  PKS  dan  Demokrat  menarik  diri  dari  Panja,  Partai  Golkar  sebagai  kekuatan  utama
              pendukung RUU Cipta Kerja bermanuver dengan menggelar safari politik ke berbagai kekuatan
              politik dengan dipimpin Ketua Umum-nya, Airlangga Hartarto.

              Tercatat, Golkar menemui Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Ketum Gerindra
              Prabowo Subianto, dan Presiden PKS Sohibul Iman. Tak ketinggalan, mereka juga menemui para
              ulama di PP Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

              Saat pembahasan perundangan di Dewan, PKS dan Demokrat juga tak banyak mengubah RUU
              Cipta Kerja, apalagi mendesak pencabutan.

              Baru pada rapat pengambilan keputusan di Badan Legislasi DPR, dua fraksi itu bersuara lantang
              menolak. Di Rapat Paripurna DPR, PKS dan Demokrat kembali menyatakan penolakan. Partai
              berlogo Mercy itu menambahkan bumbu  walkout  .

              Hal itu tak berdampak banyak pada nasib RUU Cipta Kerja yang tetap disahkan.

              Hal yang senada juga terjadi pada pembahasan perundanga kontroversial lain. Misalnya, Revisi
              UU KPK yang ditolak publik hingga berujung aksi besar-besaran.

              Partai di luar pemerintah di penghujung periode pertama Jokowi, yakni Partai Gerindra, PKS, dan
              Partai  Demokrat,  tak  menolak  draf  tersebut  meski  nyaring  di  media  massa.  Mereka  dalam
              pembahasan di Dewan hanya memberi sejumlah catatan dalam dukungannya terhadap UU KPK.

              Kejadian  berulang  di  pembahasan  RUU  Minerba  tahun  ini.  RUU  yang  sempat  ditunda
              pengesahannya pada 2019 itu, tiba-tiba dibahas dan dibawa ke Rapat Paripurna DPR.
              Di periode kedua Jokowi, ada tiga fraksi yang berada di luar pemerintah, yakni Partai Demokrat,
              PKS, dan PAN.  Namun soal  RUU  Minerba,  hanya  Demokrat  yang  menolak.  RUU  itu  pun  sah
              sebagai undang-undang.

              Pengamat politik Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin menyebut pembicaraan sejumlah RUU
              kontroversial itu jadi bukti betapa lemahnya oposisi di Indonesia. Alih-alih menyampaikan solusi
              alternatif, oposisi justru sibuk dengan akrobat politik.

              "Paling  celaka  UU  KPK,  semua  fraksi  menyetujui.  Itu  sebenarnya  oposisi-koalisi  betul-betul
              dagelan.  Kalau  tidak  ada    check  and  balances    akan    abuse  of  power    (penyalahgunaan
              wewenang)," kata Ujang kepada  CNNIndonesia.com  , Selasa (6/10).

              Ujang menilai ada dua faktor yang menyebabkan oposisi melempem. Pertama, kekuatan koalisi
              Jokowi terlalu besar. Sebanyak 427 kursi DPR atau 74,3 persen suara di DPR mendukung Jokowi.

              Foto: CNN Indonesia/Fajrian  Alasan kedua, partai opisisi tak berlandaskan pada ideologi yang
              jelas. Partai-partai di Indonesia, kata dia, dibangun berdasarkan pragmatisme.




                                                           660
   656   657   658   659   660   661   662   663   664   665   666