Page 656 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 656

RENTETAN CACAT FORMIL UU CIPTA KERJA DI MATA FH UGM

              Jakarta  -  Dosen  hukum  tata  negara  dari    Universitas  Gadjah  Mada    Zainal  Arifin  Mochtar
              mengatakan terdapat sejumlah kecacatan formil yang dapat ditelaah pada pembahasan  UU
              Cipta Kerja  di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

              "Saya  harus  sampaikan  bahwa  UU  ini  dibuat  dengan  proses  formil  yang  bermasalah,  dan
              substansi materiil yang masih banyak catatan," katanya melalui konferensi pers daring yang
              digelar FH UGM, Selasa (6/10).

              Hal tersebut, katanya, dapat ditarik dari beberapa insiden pada pembahasan hingga pengesahan
              di Rapat Paripurna. Di antaranya adalah minimnya partisipasi masyarakat dalam pembahasan
              UU.

              Pada  pembentukan  sebuah  UU,  publik  seharusnya  mendapatkan  risalah  atau  catatan
              pembahasan dari awal sampai akhirnya diputuskan untuk disahkan. Ini untuk membuka ruang
              masyarakat turut mengawal pembentukan UU.

              Namun hal tersebut tak terjadi pada pembahasan UU Cipta Kerja. Aspirasi masyarakat yang
              diterima pun ia diduga dipilah sesuai keinginan pemerintah dan DPR.

              "Aspirasi ditutup dan  selected  , hanya pihak-pihak tertentu yang didengarkan. Menurut saya ini
              mirip  orang  buat  skripsi,  sudah  punya  kesimpulan.  Hanya  cari  data  yang  mendukung  saja,
              seakan-akan dipilih orang-orang yang didengar," jelasnya.
              Kemudian ia juga mempertanyakan sejumlah anggota DPR yang dikatakan tidak menerima draf
              final UU ketika mengikuti Rapat Paripurna. Ia menyebut rapat tersebut seolah hanya formalitas.

              "Jadi Paripurna hanya kayak Paripurna cek kosong. Yang hanya dilakukan, tapi kemudian draf
              tidak  dibagikan  ke  masing-masing  anggota.  Anggota  tidak  tahu  apa  sebenarnya  yang  harus
              dikomentari," ungkapnya.

              Zainal mengatakan paska UU Cipta Kerja disahkan, masyarakat tetap harus mengawal poin-poin
              di dalamnya. Menurutnya, potensi adanya pasal selipan dimasukan ke dalam UU setelah disahkan
              di DPR selalu ada.

              Ini belajar dari pengalaman pembentukan dan perubahan UU yang selama ini terjadi. Ketika DPR
              menyampaikan  draf  UU  kepada  pemerintah  untuk  diperbaiki  secara  teknis,  terkadang  ada
              perbaikan yang dilakukan bisa melebihi yang seharusnya.

              "UU Pemilu misalnya yang kita lihat kita kawal, terjadi penambahan-penambahan itu. Dengan
              ketiadaan tidak dibaginya risalah, draf, kontrolnya akan jadi sulit," ujarnya.

              Pada tahapan ini, ia mengakui tidak ada jalan lain untuk menggagalkan Omnibus Law kecuali
              dengan judicial review di Mahkamah Konstitusi (MK). Namun menurutnya tekanan publik dapat
              memberi dorongan kepada Presiden Joko Widodo.
              Jika publik terus menyuarakan pendapatnya terkait UU Cipta Kerja, Zainal berharap Jokowi akan
              mempertimbangkan menandatangani dokumen tersebut. Meskipun secara keseluruhan hal itu
              tak berdampak banyak, karena UU akan tetap berlaku 30 hari setelahnya.

              Menambahkan,  Departemen  Hukum  Perdata  Bagian  Ketenagakerjaan  UGM  Nabila  Risfa  Zatti
              mengatakan pihaknya menemukan sejumlah pasal ambigu pada UU Cipta Kerja. Beberapa pasal
              dinilai berpotensi menggagalkan tujuan pemerintah menyederhanakan kebijakan dalam rangka
              mendongkrak investasi.



                                                           655
   651   652   653   654   655   656   657   658   659   660   661