Page 654 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 654

TANPA UU CIPTA KERJA PUN, LEBIH 50 PERSEN PERUSAHAAN DI KOTA
              TASIKMALAYA BELUM PENUHI HAK PEKERJA
              Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI)  Kota Tasikmalaya  menilai, masih banyak  perusahaan
              di  Kota Tasikmalaya  yang nakal atau belum memenuhi hak para pekerjanya secara penuh.
              Sayangnya, terkait itu selama ini tidak ada langkah dari pemerintah untuk menindak  perusahaan
              yang "nakal" itu.

              Pernyataan  tersebut  disampaikan  Ketua  Serikat  Pekerja  Seluruh  Indonesia  (SPSI)    Kota
              Tasikmalaya    ,  Yuhendra  Effendi.  Menurutnya,  saat  ini    perusahaan    yang  menjamin  hak
              pekerjanya sesuai Undang-Undang Ketenagakerjaan di Kota Tasik masih di bawah 50 persen.

              Semantara sisanya bahkan antara 60 hingga 70 persennya masih bermasalah dalam menjamin
              hak  pekerja  .

              "Masalah tenaga kerja itu bukan hanya upah. Misalnya satu  perusahaan  membayar upah sesuai,
              tapi tak ada jaminan sosial, jam kerja yang tidak sesuai, tunjangan yang dihilangkan dan yang
              lainnya. Sehingga sekitar 60-70 persen SPSI menilai masih melakukan pelanggaran," kata dia,
              Selasa, 6 Oktober 2020.

              Karena  itu  ujar  Yuhendra,  pihaknya  meminta  Pemerintah  Kota  (Pemkot)  Tasikmalaya  agar
              memberikan perhatian dan perlindungan kepada para  pekerja  .

              Perlindungan tersebut salah satunya melalui jaminan  pekerja  mendapatkan upah sesuai UMK,
              mendapat jaminan sosial, kejelasan jam kerja, dan lainnya.

              "Masih  banyak  teman-teman  kita  di  perusahan  yang  mendapat  upah  jauh  di  bawah  umk.
              Pemerintah tahu, tapi tidak ada perubahan," kata dia.

              Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja  Kota Tasikmalaya  , Rahmat Mahmuda mengatakan,
              pihaknya  memiliki  keterbatasan  sumber  daya  manusia  dan  anggaran  dalam  melakukan
              pengawasan.

              Selain itu, saat ini kewenangan pengawasan ketenagakerjaan berada di tingkat provinsi.

              "Kalau dulu kan di tingkat kota ada, jadi kalau ada masalah bisa langsung tertangani dengan
              cepat. Mungkin masalah koordinasi saja," kata dia.
              Rahmat    menegaskan,     pihaknya  akan     memperkuat     koordinasi   dengan    pengawas
              ketenagakerjaan.

              Dengan begitu, ketika ada masalah mengenai hak  pekerja  yang tak sesuai dapat langsung
              ditangani dengan mediasi atau langkah lainnya. "Tadi juga ada pengawas, intinya mereka siap
              24 jam kalau ada aduan," kata dia.

              Rahmat mengingatkan,  perusahaan  juga harus terus menjamin hak para karyawannya. Sebab,
              bukan tak mungkin pelanggaran hak kepada tenaga kerja dibawa ke ranah pidana.

              "Sanksi pidana itu bisa diterapkan kalau ada perusahan yang melanggar. Pengawas itu ada di
              penyidik. Kalau ada laporan juga kita sampaikan ke pengawas," kata Rahmat  Disinggung terkait
              disahkannya  UU Cipta Kerja  omnibus law  , yang telah disahkan RI dan pemerintah pusat,
              Rahmat mengatakan, masih ada celah melalui peraturan pemerintah.

              "Itu kan sudah disahkan, tapi menurut saya masih ada celah melalui peraturan pemerintah. Jadi
              nanti bisa saja dalam penerapannya secara teknis bisa diatur melalui peraturan pemerintah.Itu
              akan kita usulkan," ucapnya.***.


                                                           653
   649   650   651   652   653   654   655   656   657   658   659