Page 745 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 7 OKTOBER 2020
P. 745

jaminan pensiun dalam Undang-undang  Omnibus Law  Cipta Kerja (  Ciptaker  ). Jaminan itu
              diberikan melalui pemberian kompensasi setiap berakhirnya kontrak.
              Sedangkan  untuk  jaminan  lainnya  berupa  jaminan  kesehatan,  jaminan  kecelakaan,  jaminan
              kematian, tetap ada dan sama dengan pekerja tetap.

              "Demikian juga dalam hal terjadi pengalihan pekerja, maka perlindungan hak-hak atas pekerja
              dan buruh tidak boleh kurang, sepanjang objek pekerjaannya tetap ada (pekerjaan yang ada
              pada satu perusahaan pemberi pekerjaan yang sama)," ujar Sekretaris Kemenko Perekonomian
              Susiwijono Moegiarso dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (6/10).

              Susiwijono  mengungkapkan  PKWT  hanya  untuk  pekerjaan  yang  memenuhi  syarat-syarat
              tertentu (tidak tetap). Selain itu, PKWT memberikan perlindungan untuk kelangsungan bekerja
              dan perlindungan hak pekerja sampai pekerjaan selesai.

              Ketika  PKWT  berakhir,  pekerja  berhak  mendapatkan  uang  kompensasi,  sesuai  dengan  masa
              kerja yang diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.

              Selain itu, UU Ciptaker tetap mengatur hubungan kerja dalam alih daya (  outsourcing  ) dengan
              lingkup pekerjaan yang dapat dialihdayakan tidak dibatasi. Apabila terjadi pengalihan pekerjaan
              dari  perusahaan  alih  daya,  masa  kerja  dari  pekerja/buruh  tetap  dihitung,  dan  pengalihan
              perlindungan hak-hak pekerja harus dipersyaratkan dalam perjanjian kerja.

              Selanjutnya, Susiwijono menjelaskan waktu kerja pekerja tetap mengikuti ketentuan Undang-
              undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yaitu 40 jam seminggu atau sepekan,
              di mana untuk 5 hari kerja sebanyak 8 jam per hari dan untuk 6 hari kerja sebanyak 7 jam per
              hari.

              UU Cipta Kerja, lanjut Susiwijono, menampung pekerjaan yang sifat dan kondisinya tidak dapat
              sepenuhnya mengikuti ketentuan tersebut, sehingga perlu diatur waktu yang khusus.

              Menurut Susiwijono, jenis pekerjaan mengikuti tren industri 4.0 dan berbasis industri ekonomi
              digital yang waktunya sangat fleksibel sesuai dengan kesepakatan.

              UU Cipta Kerja juga memberi ruang optimalisasi waktu kerja dan optimalisasi kapasitas produksi
              dengan menambah jam lembur, dari 3 jam menjadi 4 jam per hari.

              "Dengan  tetap  adanya  pengaturan  waktu  untuk  5  atau  6  hari  kerja,  maka  waktu  untuk
              libur/istirahat tetap ada dan disesuaikan," ujarnya.

              Lebih lanjut, Susiwijono juga menegaskan UU Cipta Kerja tidak menghilangkan hak cuti haid dan
              cuti hamil yang telah diatur dalam UU Ketenagakerjaan.

              "Pengusaha tetap wajib memberi waktu istirahat dan cuti bagi pekerja/buruh," jelasnya.

              Sebelumnya, ketentuan PKWT dan  outsourcing  dalam UU Ciptaker ditolak kaum buruh. Presiden
              Konfederasi  Serikat  Pekerja  Indonesia  (KSPI)  Said  Iqbal  menilai  ketentuan  tersebut  bisa
              menimbulkan perjanjian karyawan kontrak seumur hidup.


              Selain itu, masih belum jelas siapa pihak yang akan membayar Jaminan Kehilangan Pekerjaan
              (JKP) untuk karyawan kontrak dan outsourcing.

              "Karyawan kontrak dan  outsourcing  seumur hidup menjadi masalah serius bagi buruh," ujar
              Said melalui keterangan resmi terpisah.




                                                           744
   740   741   742   743   744   745   746   747   748   749   750