Page 162 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 MEI 2021
P. 162
Ringkasan
Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan
(Kemnaker) Bambang Satrio Lelono menyampaikan, keberhasilan suatu negara sangat
ditentukan oleh seberapa banyak negara tersebut memiliki sumber daya manusia (SDM) yang
terampil. Karenanya, pembangunan SDM yang unggul saat ini menjadi satu fokus utama
pemerintah.
JADI NEGARA TERBESAR KETUJUH, INDONESIA BUTUH 113 JUTA TENAGA KERJA
TERAMPIL
Jakarta, Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian
Ketenagakerjaan ( Kemnaker ) Bambang Satrio Lelono menyampaikan, keberhasilan suatu
negara sangat ditentukan oleh seberapa banyak negara tersebut memiliki sumber daya manusia
(SDM) yang terampil. Karenanya, pembangunan SDM yang unggul saat ini menjadi satu fokus
utama pemerintah.
Berdasarkan kajian McKinsey Global Institute, Bambang mengatakan Indonesia sebetulnya
memiliki potensi untuk menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-7 di dunia pada 2030.
Syaratnya, di tahun tersebut Indonesia memiliki tenaga kerja terampil dan semi terampil
sebanyak 113 juta.
"Kalau kita lihat kajian tersebut dipublikasikan pada 2012 di mana Indonesia baru memiliki 57
juta tenaga kerja terampil dan semi terampil, berarti setiap tahunnya kita harus bisa menciptakan
lebih dari 3 juta tenaga kerja terampil atau semi terampil," kata Bambang dalam acara diskusi
yang digelar Core Indonesia, Senin (3/5/2021).
Namun diakui Bambang, adanya pandemi Covid-19 memberi tantangan yang besar dalam
mencetak SDM unggul untuk mencapai kinerja ekonomi yang lebih baik. Antara lain kondisi
ketenagakerjaan di Indonesia, bonus demografi, serta revolusi industri generasi ke-4 yang
ditandai dengan perkembangan teknologi digital yang sangat pesat.
"Pembangunan ketenagakerjaan dalam lima tahun sebelum pandemi sebetulnya menunjukkan
kinerja yang baik. Kita bisa menekan angka pengangguran di bawah 5%, dan juga menekan
tingkat kemiskinan di bawah dua digit. Tetapi begitu satu tahun belakangan ini kita mengalami
pandemi, gambaran tersebut berantakan. Hanya dalam waktu 6 bulan, ternyata ada peningkatan
pengangguran 2,6 juta. Angka pengangguran menjadi 9,77 juta atau 7,07%," kata Bambang.
Terkait bonus demografi, Bambang mengatakan bonus demografi sebetulnya sudah didapatkan
Indonesia sejak 2012, di mana pada saat itu jumlah penduduk yang produktif sudah melampaui
yang tidak produktif. Puncaknya akan terjadi pada 2030, di mana penduduk usia produktif akan
mencapai 70%.
"Ini merupakan satu modal pembangunan yang luar biasa untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi, dengan syarat apabila orang-orang yang berusia produktif tersebut memiliki
kompetensi dan produktivitas, sehingga bisa berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan
ekonomi. Sebaliknya, apabila kita gagal memberikan keterampilan dan pengetahuan pada
penduduk usia produktif, ini justru akan menjadi bumerang bagi ekonomi Indonesia ke depan,"
kata Bambang.
Karenanya, menurut Bambang ada tiga hal yang harus diprioritaskan dalam mengelola bonus
demografi, yakni pembangunan kesehatan, pendidikan dan pelatihan, serta menciptakan
ekosistem ketenagakerjaan yang kondusif.
161

