Page 170 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 4 MEI 2021
P. 170
Selain itu, dalam waktu 6 bulan terakhir, terjadi peningkatan pengangguran sebesar 2,6 juta
orang menjadi 9,77 juta atau sebanyak 7,07 persen. Bahkan, pandemi Covid-19 juga berdampak
terhadap sebanyak 100 juta orang pekerja usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Kemenaker Bambang Satrio Lelono mengatakan
kondisi tersebut sebenarnya cukup berat bagi Indonesia untuk meningkatkan kinerja ekonomi
dan mengatasi berbagai masalah ketenagakerjaan lain.
"Kondisi ini sulit, padahal melihat pembangunan tenaga kerja 5 tahun sebelum pandemi Covid-
19, pemerintah bisa menekan angka pengangguran di bawah 5 persen, tepatnya 4,99 persen
atau 6,88 juta orang. Namun, setahun belakangan upaya tersebut berantakan," ujarnya dalam
diskusi virtual, Senin (3/2/2021).
Dampak pandemi Covid-19, lanjutnya, menahan tren positif bahwa Indonesia yang bisa menekan
angka pengangguran secara signifikan serta angka kemiskinan di bawah 2 digit, yakni 9 persen.
Selain itu kondisi di atas, Bambang mengatakan terdapat 2 tantangan utama lain bagi sektor
ketenagakerjaan Indonesia; yakni, bonus demografi yang dinilai bagai pedang bermata dua bagi
perekonomian nasional.
Mengenai bonus demografi, jelasnya, sejak 2012 jumlah penduduk produktif di Indonesia
melampaui jumlah penduduk yang tidak produktif. Pada 2030, penduduk Indonesia dengan usia
produktif diprediks mencapai 70 persen dari jumlah keseluruhan.
"Ini modal dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Dengan syarat penduduk usia produktif
tersebut memiliki kompetensi dan produktivitas sehingga bisa berkontribusi dalam mendorong
petumbuhan ekonomi," ujarnya.
Sebaliknya, kata Bambang, apabila Indonesia gagal memberikan keterampilan dan pengetahuan
kepada penduduk usia produktif, maka bonus demografi tersebut justru akan menjadi bumerang
bagi ekonomi Indonesia ke depan.
Kajian dari Mckinsey Global Institute mengatakan Indonesia berpeluang menjadi negara ekonomi
terbesar ketujuh dunia pada 2030. Hal ini bisa terwujud jika pada 2030 Indonesia memiliki tenaga
kerja terampil dan semiterampil sebanyak 113 juta orang.
Pada 2012, Indonesia tercatat memiliki 57 juta tenaga kerja terampil dan semiterampil, artinya
setiap tahun Indonesia harus bisa menciptakan lebih dari 3 juta tenaga kerja terampil dan
semiterampil. Menurut Bambang, ada 3 hal yang harus diprioritaskan dalam mengatasi
tantangan tersebut; yakni, pembangunan dalam kesehatan karena diperlukan generasi yang
sehat; pendidikan dan pelatihan berbasis teknologi; dan menciptakan ekosistem
ketenagakerjaan yang fleksibel serta kondusif.
Tantangan kedua bagi sektor ketenagakerjaan Tanah Air adalah Revolusi Industri 4.0, yang
membawa paradigma baru dalam pergaulan masyarakat. Termasuk dalam hal berkomunikasi,
berbagi informasi, bekerja sama, dan dalam mengakses teknologi, tidak terkecuali dalam dunia
industri.
Pada saat proses produksi berubah, jelasnya, maka proses bisnis juga akan ikut berubah. Hal ini
dinilai secara langsung berimplikasi terhadap sektor ketenagakerjaan sehingga jenis-jenis
keterampilan yang dibutuhkan akan ikut berubah.
Bambang pun menilai hal tersebut harus diantisipasi melalui tranformasi pasar kerja dengan
mengandalkan teknologi digital serta mempertimbangkan perubahan iklim bisnis dan industri,
posisi pekerjaan, dan kebutuhan keterampilan.
169

