Page 39 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 AGUSTUS 2021
P. 39

TERGANJAL REGULASI MELINDUNGI PELAUT INDONESIA

              Praktik perbudakan modern pelaut Indonesia di kapal asing yang terus terjadi diduga terjadi
              akibat  lemahnya  perlindungan  pemerintah  terhadap  warga  negaranya.  Kepala  Badan
              Pelindungan  Pekerja  Migran  Indonesia  (BP2MI),  Benny  Rhamdani,  mengatakan  minimnya
              perlindungan terhadap anak buah kapal (ABK) terjadi karena Undang-Undang Nomor 18 Tahun
              2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia belum memiliki aturan pelaksana.

              Benny  mengatakan  semestinya  pemerintah  menerbitkan  aturan  teknis  tentang  pelindungan
              buruh migran. “Padahal, menurut amanat undang-undang, rancangan peraturan pemerintah itu
              diterbitkan  paling  lambat  dua  tahun  semenjak  Undang-Undang  Pelindungan  Pekerja  Migran
              disahkan,” kata Benny, kemarin.

              Benny  menyebutkan  Peraturan  Pemerintah  Nomor  59  Tahun  2021  tentang  Pelaksanaan
              Pelindungan  Pekerja  Migran  yang  diteken  pada  April  lalu  belum  bisa  dieksekusi.  Padahal
              peraturan  pemerintah  ini  menjamin  perlindungan  terhadap  hak-hak  pekerja,  penempatan
              pekerja, perjanjian kerja sama selama penempatan, penerbitan surat izin penempatan pekerja
              migran,  serta  berbagai  jenis  perlindungan  lainnya.  Peraturan  pemerintah  itu  juga  mengatur
              BP2MI, pemerintah pusat, kantor perwakilan Republik Indonesia, serta pemerintah daerah dan
              desa sebagai pelaksana pelindungan pekerja migran.

              Menurut Benny, penyelesaian kebijakan pelindungan pekerja migran tersendat lantaran adanya
              ego  sektoral  di  sejumlah  kementerian.  Beberapa  kementerian  merasa  paling  kuat  dan  ingin
              mendominasi  urusan  tata  kelola  penempatan  pekerja  migran,  termasuk  penempatan  ABK  di
              kapal asing.

              “Seolah-olah  ada  keinginan  cawe-cawe  untuk  ikut  mengurus  dan  mengatur.  Mereka  berpikir
              seperti itu karena tidak mengedepankan kepentingan negara,” ujar Benny.

              Ia mengatakan BP2MI sama sekali tidak dilibatkan dalam pembahasan Peraturan Pemerintah
              Nomor  59  Tahun  2021  tersebut.  Berdasarkan  informasi  yang  ia  peroleh,  Kementerian
              Perhubungan  masih  menginginkan  pengelolaan  penempatan  buruh  migran.  Mereka  meminta
              masa transisi peralihan pengelolaan ke Kementerian Ketenagakerjaan berlangsung selama dua
              tahun.

              Selama ini, Kementerian Perhubungan berwenang menerbitkan surat izin usaha perekrutan dan
              penempatan  awak  kapal  (SIUPPAK).  Kementerian  Perhubungan  juga  mengelola  penerbitan
              sejumlah dokumen ABK, seperti buku pelaut dan sertifikat basic training (BST) sebagai pelaut.
              Sementara  itu,  Undang-Undang  Pelindungan  Pekerja  Migran  mewajibkan  pengelolaan  dan
              penerbitan  surat  izin  perusahaan  penempatan  pekerja  migran  Indonesia  (SIP3MI)  dilakukan
              Kementerian Ketenagakerjaan.

              Menurut  Benny,  sengkarut  itulah  yang  membuat  peraturan  pemerintah  tentang  pelindungan
              pekerja migran ini tak pernah bisa diimplementasikan. Jadi, pemerintah belum bisa memberi
              perlindungan maksimal kepada ABK yang berlayar di tengah laut, termasuk mengevaluasi dan
              memantaunya secara berkala.

              Dua hari lalu, Tempo mengungkap dugaan perbudakan ABK dari Indonesia di kapal pencari ikan
              berbendera  Taiwan  dan  Cina.  Dua  perusahaan  agensi  pengiriman  ABK  itu  adalah  PT  Rafa
              Samudera  Bahari  dan  PT  Putri  Ocean  Abadi  (POA).  Kedua  perusahaan  ini  ditengarai  telah
              memperdagangkan 19 orang pelaut Indonesia untuk bekerja di kapal asing.

              Kedua perusahaan itu juga diduga membiarkan praktik penyiksaan ABK di kapal asing serta tidak
              membayar gaji para pelaut Indonesia yang dipekerjakan di kapal asing tersebut selama 22 bulan.
              Salah  seorang  korbannya  bernama  Andi  Saputra,  34  tahun.  Warga  Bogor,  Jawa  Barat,  ini
              menderita sakit paru-paru. Gajinya sudah berbulan-bulan tak dibayar. Kondisi serupa menimpa
                                                           38
   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44