Page 37 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 AGUSTUS 2021
P. 37

masyarakat  kelas  menengah  dan  14,34  persen  masyarakat  kelas  atas  yang  menerima  Kartu
              Prakerja.
              “Risikonya adalah program ini tidak mendorong konsumsi rumah tangga lebih tinggi,” ujar Tauhid
              kepada  Tempo,  kemarin.  Alasannya,  kelompok  masyarakat  kelas  menengah  dan  kelas  atas
              cenderung menahan diri untuk mengeluarkan uang dan memilih menyimpannya selama masa
              pandemi.

              Merujuk pada data yang sama, Tauhid menuturkan hanya 48,7 persen peserta yang mengikuti
              program untuk mendapatkan keterampilan kerja. Sebanyak 27,73 persen mengikuti program
              untuk mendapatkan uang saku atau insentif; 12,98 persen karena mengikuti teman atau coba-
              coba; dan 5,01 persen untuk mengisi waktu luang.

              Meski  program  Kartu  Prakerja  juga  ditujukan  sebagai  program  bantuan  sosial,  Tauhid
              menyatakan perlu ada penetapan sasaran yang tepat agar anggaran pelatihan terpakai untuk
              meningkatkan keahlian peserta, baik sebagai calon pekerja maupun untuk berwirausaha. Dalam
              konteks  ini,  Tauhid  mengatakan  penting  untuk  memilih  pelatihan  yang  berorientasi  pada
              permintaan pasar.

              Direktur Eksekutif Center of Reform and Economics, Mohammad Faisal, menuturkan pemerintah
              juga  perlu  merancang  program  pembelajaran di  luar  jaringan.  Sebab, penguasaan  beberapa
              jenis keterampilan tak cukup hanya melalui tayangan video. Pertemuan secara langsung juga
              diperlukan sebagai ajang bagi para peserta untuk mendapatkan masukan serta saran atas ilmu
              yang telah dipelajari.

              Ihwal sasaran penerima manfaat, Faisal sepakat perlu ada perhatian khusus jika gelombang baru
              dibuka.  Berdasarkan  data  Survei  Angkatan  Kerja  Nasional  Badan  Pusat  Statistik  tahun  lalu,
              tercatat 66,47 persen penerima Kartu Prakerja merupakan orang yang bekerja. Sementara itu,
              penganggur  yang  mengikuti  program  itu  sebesar  22,24  persen  dan  bukan  angkatan  pekerja
              11,29 persen. “Banyak yang justru bukan yang terkena PHK dan menganggur. Efektivitasnya
              bisa jadi lebih rendah,” kata Faisal.
              Program  Kartu  Prakerja  awalnya  dirancang  untuk  membantu  calon  pekerja  menambah
              keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Harapannya, pemerintah bisa menekan
              angka pengangguran. Namun, setelah pandemi merebak, programnya dimodifikasi sebagai salah
              satu sarana penyaluran bantuan sosial dari pemerintah.
              Program ini dibuka pada 11 April 2020. Hingga akhir tahun lalu, pemerintah telah membuka 11
              kali pendaftaran. Total terdapat 43,8 juta orang yang mendaftar selama periode tersebut. Tapi,
              dengan anggaran Rp 20 triliun, hanya 5,5 juta orang yang bisa mengikuti program.

              Tahun ini pemerintah kembali membuka pendaftaran peserta program Kartu Prakerja. Meski
              sempat hanya menganggarkan Rp 10 triliun, pemerintah akhirnya setuju menambah anggaran
              untuk program Kartu Prakerja menjadi Rp 20 triliun melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja
              Negara 2021. Kemudian, pada Juli lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengumumkan
              penambahan  anggaran  untuk  program  Kartu  Prakerja  sebesar  Rp  10  triliun  dengan  jumlah
              peserta 2,8 juta orang.












                                                           36
   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42