Page 40 - e-KLIPING KETENAGAKERJAAN 3 AGUSTUS 2021
P. 40

ABK lainnya yang juga dipekerjakan PT Rafa Samudera Bahari dan PT Putri Ocean Abadi di kapal
              penangkap ikan berbendera asing.
              Hingga saat ini, pemilik kedua perusahaan itu belum berhasil dimintai konfirmasi. Tempo sudah
              mendatangi alamat kedua perusahaan di Bogor, tapi kantor perseroan sudah dalam keadaan
              kosong.

              Juru bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati, belum menjawab permintaan konfirmasi
              Tempo soal ini. Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah juga belum merespons permintaan konfirmasi
              Tempo. Saat dimintai konfirmasi, Ida sempat menghubungi Tempo tapi koneksinya terputus. Ida
              tak merespons lagi ketika dikontak ulang.
              Ketua  Advokasi  Hukum  dan  Hak  Asasi  Manusia  Pergerakan  Pelaut  Indonesia,  Imam  Syafi’i,
              mengatakan, sampai saat ini, pelindungan ABK oleh Kementerian Ketenagakerjaan dan BP2MI
              memang tidak berjalan akibat persoalan birokrasi yang rumit. Pengusaha pengirim ABK masih
              kebingungan dengan adanya transisi sistem dari rezim SIUPPAK ke SIP3MI.
              “Dampaknya, perusahaan yang sudah punya SIUPPAK tapi belum memiliki SIP3MI akhirnya di
              bandara tidak bisa memberangkatkan ABK, sehingga biaya pengusaha yang dibebankan ke ABK
              semakin berat,” kata Imam.

              Ia mengatakan aturan teknis tentang pelaksanaan SIUPPAK sesungguhnya masih diakomodasi
              dalam  Undang-Undang  Cipta  Kerja.  Namun  sistem  SIUPPAK  itu  tidak  terkoneksi  dengan
              mekanisme SIP3MI. Kondisi ini berdampak serius terhadap jaminan pelindungan ABK di atas
              laut.
              “Artinya, potensi perbudakan terus terjadi apabila tidak ada lembaga negara yang mengambil
              alih melakukan pengawasan, pemantauan, dan evaluasi demi menjamin keselamatan ABK,” ujar
              Imam.

              Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, mengatakan kasus perbudakan modern ABK di
              kapal ikan sering terjadi, meski pemerintah Indonesia telah  menerbitkan aturan pelindungan
              buruh migran. “Tapi itu tidak diterapkan dan monitoring-nya lemah sekali terhadap agensi kapal
              maupun agensi yang mengirim ABK,” kata Anis.

              Anis juga menyoroti penegakan hukum yang masih tebang pilih dalam kasus perbudakan ABK
              selama  ini.  Ia  berpendapat  bahwa  pemerintah  hanya  berfokus  menangani  kasus  ABK  yang
              menjadi perhatian publik. Sedangkan kasus perbudakan pelaut Indonesia lainnya terabaikan.
              “Tindakan pencegahan dan monitoring sama sekali tak pernah dilakukan pemerintah,” katanya.
























                                                           39
   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44   45