Page 126 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 APRIL 2021
P. 126

KADO 'GAJI' 6 BULAN BUAT KORBAN PHK

              Pemerintah  terus  mematangkan  aturan  korban  PHK  bisa  mendapat  'gaji'  selama  6  bulan,
              pelatihan  kerja,  hingga  akses  informasi  lapangan  kerja.  Semua  manfaat  itu  bisa  didapatkan
              dengan menjadi peseta di program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Untuk manfaat gaji,
              menurut Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, besarannya mencapai 45% dari gaji korban PHK
              tersebut selama 3 bulan pertama. Lalu, 3 bulan berikutnya 25% dari upah.

              "Uang tunai 45% dari upah untuk 3 bulan pertama, 25% dari upah untuk 3 bulan berikutnya,
              dan ini diberikan paling lama 6 bulan," ujar Ida dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR RI dan
              Dirut BPJS Ketenagakerjaan, Rabu (7/4/2021).

              Namun, karena sumber pendanaan program ini salah satunya berasal dari pemerintah pusat,
              maka ada batas atas upah sebesar Rp 5 juta. Artinya, untuk korban PHK dengan gaji di atas Rp
              5  juta  tetap  bisa  menerima  manfaat  yang  sama  namun  perhitungan  besaran  gaji  yang
              diterimanya sebagai peserta JKN adalah 45% dari Rp 5 juta di 3 bulan pertama atau sekitar Rp
              2,25 juta dan 25% dari Rp 5 juta di 3 bulan berikutnya atau sekitar Rp 1,25 juta.

              Bagaimana dengan para korban PHK yang gajinya di bawah Rp 5 juta? Perhitungannya tetap
              sama disesuaikan dengan upah yang diterimanya saat bekerja dulu.

              Misal, upah peserta JKP sebelum di PHK adalah sebesar Rp 3 juta, maka kemungkinan ia bisa
              mendapat gaji sebesar Rp 1,35 juta selama 3 bulan pertama. Lalu, sebesar Rp 750 ribu di 3
              bulan selanjutnya.

              Selain gaji, peserta JKP juga bisa mendapat manfaat lain yaitu akses informasi pasar kerja dan
              pelatihan kerja.

              "Kemudian peserta berhak mendapatkan akses informasi pasar kerja, layanan informasi pasar
              kerja dan/atau bimbingan jabatan, dilakukan oleh pengantar kerja atau petugas antarkerja,"
              ungkapnya.

              "Peserta  juga  berhak  mendapatkan  pelatihan  kerja  berbasis  kompetensi,  dilakukan  melalui
              lembaga pelatihan kerja milik pemerintah, swasta atau perusahaan," tambahnya.

              Sementara itu untuk sumber pembiayaan program ini salah satunya berasal dari pemerintah
              pusat.

              "Ada peran pemerintah, ada iuran pemerintah sebesar 0,22%, jadi di sini ada tanggung jawab
              pemerintah pusat, meskipun peserta itu dari berbagai daerah maka tetap saja iuran itu yang
              membayar adalah pemerintah pusat," katanya.

              Selain  itu,  sumber  pembiayaan  dari  program  ini  juga  berasal  dari  iuran  peserta  itu  sendiri
              sebelum di PHK dari program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan program Jaminan Kematian
              (JKM).

              "Rekomposisi iuran program JKK sebesar 0,14%, JKM sebesar 0,10%," imbuhnya. Sedangkan,
              untuk dasar perhitungannya adalah berdasarkan upah yang dilaporkan perusahaan kepada BPJS
              dengan batas upah sebesar Rp 5 juta.

              "Ini untuk memberikan kepastian untuk pemerintah karena pemerintah memiliki kewajiban untuk
              mengiur," tuturnya.

              Sebagai informasi, pada 2 Februari 2021 lalu, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2021
              tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Kehilangan Pekerjaan di Undang-undang (UU) Cipta
              Kerja memang sudah resmi berlaku. Namun, program ini masih menunggu Peraturan Menteri
              Ketenagakerjaan (Permenaker).
                                                           125
   121   122   123   124   125   126   127   128   129   130   131