Page 187 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 APRIL 2021
P. 187
Ringkasan
Magdalene.co, majalah daring yang berfokus pada isu perempuan, bekerja sama dengan
Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) menggelar Women Lead Forum
2021, sebuah ajang untuk mendukung perempuan pekerja dan mendorong terciptanya
kesetaraan gender di tempat kerja, pada 7 dan 8 April 2021. Didukung oleh Investing in Women,
sebuah inisiatif dari Pemerintah Australia, acara yang diadakan secara daring ini mengundang
berbagai narasumber kompeten dari pihak pemerintah, sektor swasta, serta organisasi
internasional.
KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN BERKOMITMEN MELAKUKAN GERAKAN
NASIONAL NON-DISKRIMINASI DI TEMPAT KERJA
Surabaya: - Magdalene.co, majalah daring yang berfokus pada isu perempuan, bekerja sama
dengan Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) menggelar Women
Lead Forum 2021, sebuah ajang untuk mendukung perempuan pekerja dan mendorong
terciptanya kesetaraan gender di tempat kerja, pada 7 dan 8 April 2021.
Didukung oleh Investing in Women, sebuah inisiatif dari Pemerintah Australia, acara yang
diadakan secara daring ini mengundang berbagai narasumber kompeten dari pihak pemerintah,
sektor swasta, serta organisasi internasional.
Women Lead Forum 2021 menjadi acara puncak dalam rangkaian program Magdalene untuk
mendukung kepemimpinan dan karier perempuan. Sejak September 2020, Magdalene telah
menerbitkan berbagai artikel terkait kehidupan perempuan pekerja dan upaya mendukung
kepemimpinan perempuan melalui microsite womenlead.magdalene.co, serial podcast How
Women Lead dan FTW Media, berbagai konten di media sosial, serta kontes video
#KantorDukungPerempuan di Instagram.
Women Lead Forum 2021 menyoroti berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan di tempat
kerja serta tantangan dalam mencapai posisi kepemimpinan.
Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Ida Fauziyah dalam keynote speech-nya,
memaparkan bermacam kondisi ketimpangan gender yang masih ditemukan di kalangan pekerja
Indonesia, mulai dari ketimpangan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK), kesenjangan upah,
hingga perlakuan diskriminatif berbasis gender.
Ida juga menyoroti bagaimana pandemi COVID-19 membawa tambahan beban tersendiri bagi
pekerja perempuan.
"Bagi perempuan, adanya pandemi memberikan beban tambahan, mulai dari hilangnya
pekerjaan atau pendapatan, meningkatnya beban pengurusan rumah tangga akibat work from
home, school from home, sehingga kekerasan dalam rumah tangga oleh pasangan meningkat
seperti yang ditemukan dalam studi tingkat global," ujarnya.
Dalam hal kepemimpinan perempuan, Ida menyatakan bahwa ini masih menjadi masalah yang
perlu diselesaikan bersama. Ia mencontohkan, dari 4,1 juta Aparatur Sipil Negara (ASN), 52
persennya adalah perempuan, namun perempuan yang menduduki jabatan struktural relatif
sedikit. Di jabatan tinggi madya, hanya ada 96 orang perempuan, jauh lebih sedikit dari laki-laki
yang berjumlah 483 orang.
"Hambatan (yang dihadapi pekerja perempuan) ini disebabkan oleh beban ganda, seksisme, dan
stereotip dalam masyarakat, diskriminasi berbasis gender, hingga pelecehan seksual. Hambatan
ini tidak hanya berdampak pada mereka secara individu dan keluarganya, tetapi juga pada
186

