Page 70 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 APRIL 2021
P. 70

Besaran upah mengacu pada nominal sebelumnya, tapi dengan ketentuan batas atas sebesar
              Rp 5 juta. Dengan begitu, apabila ada korban PHK yang sebelumnya bergaji di atas itu, nominal
              perhitungan  akan  tetap  menggunakan  Rp  5  juta  Artinya,  pada  tiga  bulan  pertama,  yang
              bersangkutan  akan  menerima  Rp  2,25  juta.  Selanjutnya,  Rp  1,25  juta  untuk  tiga  bulan
              berikutnya.

              Pembiayaan  JKP  bersumber  dari  iuran  pemerintah  pusat  sebesar  0,22  persen;  sumber
              pendanaan rekomposisi iuran program jaminan kecelakaan kerja (JKK) 0,14 persen; dan jaminan
              kematian (JKM) 0,10 persen. Ketentuan dasar perhitungan upah ialah upah yang dilaporkan ke
              BPJamsostek dengan batas upah Rp 5 juta.

              Ida juga memberikan penjelasan terkait penerima program JKP sesuai dengan UU Cipta Kerja.
              Yakni,  pekerja  yang  berkeinginan  untuk  bekerja  kembali,  pekerja  yang  memiliki  masa  iuran
              paling sedikit 12 bulan dalam 24 bulan, serta membayar iuran 6 bulan berturut-turut sebelum
              terjadi PHK.

              Saat ini, lanjut dia, pihaknya terus mematangkan pelaksanaan program JKP tersebut dengan
              menyusun  peraturan  menteri  ketenagakerjaan  (permenaker).  Kemudian,  membangun  sistem
              yang  mengintegrasikan  sistem  sisnaker  dengan  sistem  BPJamsostek  serta  integrasi  data
              kepesertaan dengan Kemenko PMK.

              Terpisah, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengungkapkan,
              buruh menolak program JKP yang dibuat pemerintah. Sebab, program JKP dinilai melanggar UU
              BPJS yang tidak memperbolehkan adanya subsidi iuran antar program. Bila itu dilanggar, direksi
              BPJamsostek bisa terkena pidana 8 tahun.

              Selain itu, bila merujuk konvensi ILO, yang ada adalah program unemployment Insurance atau
              asuransi  pengangguran.  Iurannya  berasal  dari  peserta  asuransi  pengangguran,  bukan
              rekomposisi iuran JKK dan JKM.

              "Dengan  rekomposisi  iuran  tersebut,  suatu  saat  benefit  atas  manfaat  JKK  dan  JKM  pasti
              berkurang atau setidak-tidaknya stagnan," katanya.

              Kemudian, lanjut dia, buruh bisa dirugikan karena tidak ada kepastian sustainable manfaat dari
              program itu. Sebab, bisa saja total iuran JKP tidak cukup lantaran hanya berasal dari rekomposisi
              iuran.  Bukan  dikumpulkan  dari  iuran  baru  yang  benar-benar  berasal  dari  peserta  JKP
              sebagaimana prinsip jaminan sosial.

              Belum lagi, bila pada masa pandemi ini terus terjadi PHK. "Program JKP ini hanya lip Service dan
              akal-akalan agar buruh setuju omnibus law," ungkapnya. (mia/c7/oni)























                                                           69
   65   66   67   68   69   70   71   72   73   74   75