Page 90 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 8 APRIL 2021
P. 90

NASDEM DESAK MENAKER SEJAHTERAKAN WARTAWAN

              Nasdem  Desak  Menaker  Sejahterakan  Wartawan  sebagai  pilar  keempat  demokrasi,  memiliki
              tanggung jawab yang besar sebagai agen kebudayaan agen perubahan sekaligus agen edukasi
              kepada masyakarakat.

              Bahkan dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) baik dari Presiden, Menteri hingga pejabat
              publik lainnya, seharusnya menjamin tanggung jawab insan pers.

              Faktanya hingga saat ini wartawan sebagai pekerja media, masih jauh dari kata sejahtera. Jika
              berdasar pada upah layak wartawan, gaji atau honor untuk wartawan pemula Rp3,5-Rp 4 juta.

              Setelah 2 tahun, naik Rp 6 juta dan seterusnya disertai dengan jaminan kesehatan, asuransi
              kecelakaan dan premi pendidikan jika wartawan tersebut mau melanjutkan jenjang pendidikan
              sesuai dengan kebutuhan kantor media terkait. Itupun berlaku di media-media yang sudah siap
              dari segi finansial.

              Sudah banyak yang mengusulkan, agar upah wartawan, sebaiknya disesuaikan dengan wilayah
              kerja wartawan, apakah itu di kepulauan, daerah terpencil atau tempat-tempat tertentu yang
              mengeluarkan ongkos lebih, atau tempat-tempat yang memang harga-harga kebutuhan pokok
              dan transportasi di atas rata-rata.

              Umumnya, jurnalis sama-sama mencari berita, dan gajinya pun harusnya seragam berdasarkan
              pada kebutuhan hidup layak. Tapi, pada kenyataannya berbeda antara media cetak, elektronik
              dan online. Upah masih cenderung disesuaikan dengan kebutuhan dan kebijakan masing-masing
              redaksi.

              Atas ketidakjelian pemerintah itu, Anggota Fraksi Nasdem DPR, Fadholi, mendesak pemerintah
              segera menetapkan dan mengesahkan upah layak wartawan dan jaminan asuransi kesehatan
              bagi wartawan secara nasional.

              Kerena  menurutnya,  Wartawan  dalam  UU  diakui  sebagai  buruh,  tanggung  jawab  terhadap
              jaminan  kesehatan  dan  kesejahteraan  tidak  lagi  semata-mata  menjadi  tanggung  jawab
              perusahaan media, tetapi juga tanggung jawab negara.

              "Insan  pers  sebagai  warga  negara  yang  mempunyai  fungsi  menjalankan  pelaksanaan  pilar
              demokrasi,  layak  mendapat  jaminan  untuk  meningkatkan  kesejahteraan,  kesehatan  dan
              keselamatan," ujar Fadholi, Rabu (7/4).
              Ia juga mengaku sangat perihatin dengan kondisi insan pers di Indonesia, terlebih saat kondisi
              pandemi Covid-19 seperti sekarang ini.

              "Saya ikut perihatin, karena selama ini belum ada sekalipun pembahasan serius di Pemerintahan
              mengenai kesejahteraan wartawan," tandasnya.

              Menurutnya, perhatian kepada wartawan tidak harus spesifik seperti buruh atau pekerja lainnya.
              "Yang saya maksud, pekerja media ini kan sebenarnya butuh perhatian pemerintah. Terutama
              dari Kementerian terkait seperti Kemenaker, Kemenkes, Kemensos dan KemenPUPR. Kalau yang
              ada rejeki lebih dan bekerja di perusahaan besar okelah, BPJS bisa bayar sendiri, tapi kalau yang
              tidak, saya mohon maaf bukan berniat merendahkan temen-temen media yang kecil, tapi kan
              ini kasihan, siapa yang bayar," tuturnya.

              Untuk  itu,  dirinya  mendesak  Menaker  Ida  Fauziyah,  agar  segera  menyusun,  membuat  dan
              melaksanakan program khusus untuk kesejahteraan wartawan.



                                                           89
   85   86   87   88   89   90   91   92   93   94   95