Page 41 - KLIPING KETENAGAKERJAAN 25 MARET 2020
P. 41
"Masalahnya di mana dan bagaimana perkembangannya, hingga sekarang Menaker tidak
menginformasikannya kepada masyarakat," papar Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel
Siregar dalam keterangan tertulis yang diterima Gatra (23/3).
Dalam PP tersebut, salah satu manfaat yang meningkat cukup signifikan ialah tentang beasiswa
kepada maksimal 2 anak dari peserta yang meninggal dunia atau cacat total akibat kecelakaan
kerja. Adapun besarannya untuk tingkat TK dan SD memperoleh beasiswa Rp1,5 juta per tahun
(maksimal 8 tahun), tingkat SMP mendapat Rp2 juta per tahun (maksimal 3 tahun), tingkat SMA
menerima Rp3 juta per tahun (maksimal 3 tahun), dan tingkat Perguruan Tinggi memperoleh
Rp12 juta per tahun (maksimal 5 tahun).
Timboel menjelaskan, manfaat beasiswa tersebut belum terealisasi karena belum adanya
Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker). Seperti diamanatkan Pasal 25 ayat (6) dan
Pasal 34 ayat (5) PP. 82 tahun 2019, tata cara pemberian dan persyaratan memperoleh beasiswa
pendidikan tersebut diatur dalam Permenaker.
"Dananya sudah tersedia dan siap diberikan. Namun pihak BPJamsostek belum berani
memberikan beasiswa ini karena belum adanya Permenaker," katanya. Jika BPJamsostek
memberikan beasiswa tanpa hadirnya Permenaker, lanjutnya, hal tersebut tentu bisa menjadi
masalah hukum bagi Direksi BPJamsostek.
Menurutnya, ini merupakan bentuk kinerja buruk Menaker, dan seharusnya Presiden menegur
keterlambatan tersebut. Timboel mendesak Menaker agar menjelaskan alasan keterlambatan
pembuatan Permenaker ini.
Seperti diberitakan sebelumnya, ada beberapa peningkatan manfaat program JKK dan JKm
setelah diundangkannya PP No. 82 tahun 2019, antara lain penggantian biaya transportasi,
santunan sementara tidak mampu bekerja, biaya penunjang diagnostik, santunan berkala, dan
bantuan beasiswa baik jumlah maupun nilai beasiswa.
"Semoga Permenaker ini bisa segera selesai dan anak-anak yang berhak atas beasiswa segera
memperolehnya," pungkasnya.
Reporter: Misbah Nurdi Editor: Rohmat Haryadi.
40

